In Cerita Mencatatnya

Dear Kang Sound

Pertama-tama, nggak usah geer baca judul apalagi isi tulisan ini. Kedua, muasal tulisan ini karena sound di laptop gue yang saik banget dan headset yang bassnya juga enak. Ketiga, tetap ingat kedua poin di atas hingga selesai membaca tulisan ini. Begini, baru-baru ini gue ter-influence musiknya CNBlue, salah satu band besar di Korea yang ngehits banget di Jepang dan seantero daratan Asia, termasuk Indonesia. Awalnya gue suka band ini karena kepincut wajah ganteng dan sosok dingin gitarisnya yang gue saksikan aktingnya di drama Gentlemen Dignity pertengahan 2014.

Sekitar sebulan lalu gue nonton salah satu konsernya dengan durasi 2 jam 26 menit. Tau reaksi gue? Takjub! Gue bisa mendengar dengan jelas suara gitar, bass, dan hentakkan drumnya. Gue nggak ngerti musik, tapi gue menikmati benar musik yang mereka mainkan. Kepuasan mereka dalam menyelesaikan satu lagu ke satu lagu lainnya dan kenikmatan mereka ketika memainkan masing-masing alat musik. Dan gue hanyut di dalamnya. Ah, anak band itu, wanjon deabak!! Dan Love Revolution merupakan lagu yang gue suka dari band ini. Bikin susah move on buat dengerin dan liat aksi mereka.


Sialnya, sekali lagi, sialnya gue jadi terbayang beberapa pertunjukkan yang pernah gue liat ketika anak-anak Riak manggung. Gue merasakan energi bernyanyi CNBlue dibenak anak-anak Riak yang manggung. Menyanyi dan bermusik menjadi sangat merasuk jiwa di atas panggung dan energi itu sampai ke penonton. Itulah kesan gue.

Gue jadi aneh sendiri selama menonton konser yang berlokasi di Jepang itu. Sosok lu udah pasti hadir sih di benak gue, ingatan tentang bagaimana musik dan ngedrum jadi pilihan lu.

“Nyokap gue nggak pernah ngelarang gue main musik,”begitu kan kata-kata lu dulu di suatu tempat di kampus?

Musik adalah sesuatu yang asing bagi gue selain mendengarkannya secara gratis dari media yang terbatas pula (hanya TV, HP, radio, ataupun laptop). Untuk membayangkannya saja, itu sudah menyenangkan buat gue Berbeda dengan lu dan orang-orang yang beruntung di luar sana, bisa bersentuhan dengan dunia itu.. Mengulik sebuah lagu, membaca nada, mengubah partitur, dan menciptakan musik, benar-benar sebuah proses yang belum pernah gue lakukan.

Menulis berbeda dengan bermusik meski keduanya sama-sama mengedepankan unsur kreatif dan keahlian. Orang bisa menangis ketika menulis sebuah puisi lirih pun dengan menulis sebuah lagu, bisa menitikkan air mata. Tapi, keduanya tetap beda. Bermusik rasanya lebih asik dan dapat langsung menarik perhatian banyak orang. Berbeda dengan menulis yang sosoknya kadang tak kelihatan. Dan kadang-kadang yang terlalu sering, gue merasa bosan menulis.

Pernahkah lu merasa bosan bermusik, kang sound? Pernahkan merasa musik lu tak terlalu menghasilkan apa-apa kecuali hanya untuk menyelesaikan kewajiban?

Dear, kang sound, jika bermusik menjadi jalan kehidupanmu, bergiatlah terus, karena gue akan ikut senang ketika bisa melihat lu nantinya berjaya di panggung besar yang disaksikan banyak orang. Bukan, ini bukan aksi sedang terjebak nostalgia, hanya saja apa sih yang bisa dilakukan seseorang ketika teringat harapan besar orang lain? Pilihannya ada dua: mengabaikannya atau mendukungnya?

Gue memilih poin kedua meski dukungan gue hanya berasal dari satu suara yang jauh dan lewat blog pula—halaman sederhana yang barangkali nggak pernah lu kunjungi lagi.

Kenapa?

Karena kenangan yang baik akan selalu baik. Begitulah cara gue berdiri selama ini, sejauh ini, hingga bisa sebebas ini dari masa yang sudah lewat. Belakangan, gue mengerti, begitulah caranya move on, jangan cuma foto aja yang difilter, tapi juga kesakitan agar tak lagi sesak nafas. Yailaaaah dafuk malah jadi curhat.

Yang jelas gue sedang jatuh-jatuh cintanya dengan lagu, musik, aksi, dan pesonanya CNBlue. Sebab dengan mendengarkannya, gue jadi punya ruang buat nulis sesuka gue, ya… meskipun kadang lu mucul di dalamnya seperti tulisan ini. Tapi, tapi ingat, gue bukan lagi jadi Raisa yang terjebak nostalgia. Sungguh bukan, karena gue menghormati kalian berdua. Cielaaah.

Oh iya, waktu kejadian di nikahan Minda, apa lu liat gue menyapa pacar lu duluan? Kenapa gue memberanikan diri nyapa duluan? Karena gue mau ngetes bagaimana perasaan gue memahami keadaan seperti itu. Meskipun awalnya gue agak grogi, tapi akhirnya gue berhasil menyapa junior cantik itu dengan baik. Percayalah, dalam ruangan itu, gue tidak ada perasaan buruk ke dia. Gue terlalu sibuk sendiri meyakinkan diri gue bahwa masa gue udah lewat, sudah sangat lama, begitu lama.

Sejujurnya gue senang nyapa Nanda, karena itu berarti gue berhasil menguasai diri gue (yang emang udah jarang kumat), dan gue juga senang Nanda bisa jadi orang yang bisa mengerti dan jadi pendengar yang baik buat lu. Meski kadang gue juga ingin tau bagaimana kabar permaisuri yang pernah ditinggal sang raja hilang ke laut. Sosoknya masih ada dalam blog ini. Tapi kelihatannya kehidupan sekarang jauh lebih berpihak pada lu ya? Syukurlah. Ikut senang. (Elaaah Ema kembali curhat)

Omong-omong, gue berniat beli gitar akustik tapi nggak tau merk mana dan tipe apa yang bagus. Ada saran?


Bogor, 9/7/16

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Cerita

Pegiat Musik

Gue selalu takjub lihat mereka yang bisa memainkan alat musik. Tingkat kekerenan mereka yang mengalunkan sebuah musik jadi bertambah. Terlebih ketika yang memainkan alat musik itu perempuan, ah tentu akan menjadi pusat perhatian bagi sekeliling bukan?

Musik, bahasa penting bagi kehidupan emosi manusia. Musik menjadi bahasa pengantar untuk memahami antar sesama.

Satu pertanyaan yang selalu gue ajukan pada diri gue ketika berada dalam satu konser besar atau pertunjukan kelas kecil adalah kapan gue bisa memainkan minimal satu alat musik mereka? Gitar, drum, piano, bass, dan lainnya? Untuk memegang mic saja gue nggak pede. Hal ini mafhum karena di keluarga gue nggak ada yang akrab sama dunia musik. Mereka hanya dengarkan lagu dari radio yang diputar atau tv yang terus menyala saat acara dangdut mulai. Mereka hanya penikmat dan itu sudah cukup membahagiakan melepas kepenatan dan kelelahan hidup sehari-hari. Dangdut bagi mereka adalah kesenangan kecil di antara kesusahan hidup rakyat kecil.

Sejak SD, dua hal yang selalu bikin gue grogi di hadapan temen-temen kelas gue dan guru: saat pelajaran musik dan olahraga. Jelas, karena gue buta nada. Memainkan pianika saja setengah mati. Akhirnya gue mengambil bagian nyanyi saja. Yah, dasar nggak ada darah seni, nyanyi pun kena omel sama guru seni karena nggak tau lagu basa Sunda padahal lahir dan besar di Bogor.

Makanya, waktu gue jadian sama anak band di kampus, gue senang. Karena gue pikir ini kombinasi yang pas. Gue bisa nulis meski masih amatir, bisalah dikit-dikit bikin puisi yang dialihwahanakan menjadi lirik lagu. Dia yang bikin musiknya. Ibarat Anang Hermansyah dan Krisdayanti kawe. Eh tapi mereka cere kan, nggak bisa jadi contoh. Kayaknya lebih tepatnya mirip Dee Lestari dan Marcell Siahaan. Woalah, mereka juga cere ya. Pantas saja, takdir juga berkata lain. Kita putus, lebih tepatnya gue menyetujui keputusannya yang tersirat itu untuk putus dengan membeberkan keadaan yang sulit jika hubungan “kombinasi ideal” ini dilanjutkan.

Alhasil, kombinasi ideal itu berakhir tanpa menghasilkan hal-hal yang positif apalagi produktif. Sejujurnya gue amat menyesalkan kejadian putus tanpa memperoleh sedikit pun ilmu bermusik darinya.

Gue tetap menganggap mereka yang memilih menggeluti musik itu keren. Dan gue berharap suatu saat bisa dapat kesempatan untuk bisa dekat dengan dunia musik lagi dan orangnya lebih keren seribu kali dari yang di kampus, hahahahahaha.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments