In Cerita

Pegiat Musik

Gue selalu takjub lihat mereka yang bisa memainkan alat musik. Tingkat kekerenan mereka yang mengalunkan sebuah musik jadi bertambah. Terlebih ketika yang memainkan alat musik itu perempuan, ah tentu akan menjadi pusat perhatian bagi sekeliling bukan?

Musik, bahasa penting bagi kehidupan emosi manusia. Musik menjadi bahasa pengantar untuk memahami antar sesama.

Satu pertanyaan yang selalu gue ajukan pada diri gue ketika berada dalam satu konser besar atau pertunjukan kelas kecil adalah kapan gue bisa memainkan minimal satu alat musik mereka? Gitar, drum, piano, bass, dan lainnya? Untuk memegang mic saja gue nggak pede. Hal ini mafhum karena di keluarga gue nggak ada yang akrab sama dunia musik. Mereka hanya dengarkan lagu dari radio yang diputar atau tv yang terus menyala saat acara dangdut mulai. Mereka hanya penikmat dan itu sudah cukup membahagiakan melepas kepenatan dan kelelahan hidup sehari-hari. Dangdut bagi mereka adalah kesenangan kecil di antara kesusahan hidup rakyat kecil.

Sejak SD, dua hal yang selalu bikin gue grogi di hadapan temen-temen kelas gue dan guru: saat pelajaran musik dan olahraga. Jelas, karena gue buta nada. Memainkan pianika saja setengah mati. Akhirnya gue mengambil bagian nyanyi saja. Yah, dasar nggak ada darah seni, nyanyi pun kena omel sama guru seni karena nggak tau lagu basa Sunda padahal lahir dan besar di Bogor.

Makanya, waktu gue jadian sama anak band di kampus, gue senang. Karena gue pikir ini kombinasi yang pas. Gue bisa nulis meski masih amatir, bisalah dikit-dikit bikin puisi yang dialihwahanakan menjadi lirik lagu. Dia yang bikin musiknya. Ibarat Anang Hermansyah dan Krisdayanti kawe. Eh tapi mereka cere kan, nggak bisa jadi contoh. Kayaknya lebih tepatnya mirip Dee Lestari dan Marcell Siahaan. Woalah, mereka juga cere ya. Pantas saja, takdir juga berkata lain. Kita putus, lebih tepatnya gue menyetujui keputusannya yang tersirat itu untuk putus dengan membeberkan keadaan yang sulit jika hubungan “kombinasi ideal” ini dilanjutkan.

Alhasil, kombinasi ideal itu berakhir tanpa menghasilkan hal-hal yang positif apalagi produktif. Sejujurnya gue amat menyesalkan kejadian putus tanpa memperoleh sedikit pun ilmu bermusik darinya.

Gue tetap menganggap mereka yang memilih menggeluti musik itu keren. Dan gue berharap suatu saat bisa dapat kesempatan untuk bisa dekat dengan dunia musik lagi dan orangnya lebih keren seribu kali dari yang di kampus, hahahahahaha.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment