In Cerita

What’s New on My Blog?



Horee!

Begitu kira-kira ekspresi saya ketika pertama kali klik alamat blog yang sudah enam tahun menampung berbagai cerita ini. Tampak sebuah alamat domain blog yang berubah dari emafitriyani.blogspot.co.id menjadi emafitriyani.com kemarin sore!

Berubahnya domain blog saya yang tadinya blogspot menjadi dotcom karena secara tiba-tiba keinginan untuk mengubah menjadi domain berbayar muncul lagi ketika saya sedang di kantor, sore hari, dua hari lalu. Kenapa harus berbayar? Wong curhatan alay masih mendominasi konten blog kok? Sok gaya-gaya-an pakai dotcom. Itu yang terpikir oleh saya sebelumnya.

Tapi…
Saya percaya jika kita memulai dan menyambung silahturahmi kepada orang lain, akan terbuka rejeki di depannya. Dan itu yang saya rasakan. Berawal dari sebuah event di Kemang, Jakarta Selatan beberapa bulan lalu, saya memiliki teman-teman baru yang hitzzz banget.

Sebut saja Uni Dzalika si pemilik blog unidzalika.com, ada juga Afifah si tuan rumah afifahmazaya.com, Ifa Musyrifah yang setia pada lamannya imusyrifah.com , Kak Windah yang hitz dengan windahsaputro.com, juga senior blogger Ranny yang banyak banget artikel bermanfaat di blognya rannynoviarany.com. Ada juga perempuan yang bikin adem liatnya, namanya Oka Nurlaila yang sering rajin nulis di blognya www.beebalqis.com . Dan nggak lupa satu-satunya cowok di grup itu, Aris seorang blogger dan Quiz Hunter yang rajin review film di riyardiarisman.com! Belakangan ada dua penghuni baru di grup “Blogger Muda Gesrek”, yakni Rizky Saputra si juragan di riskisaputra.com dan Kak Wulan di cvlturetraveler.com yang nggak kalah keren blognya.

Dari perkenalan itulah, rejeki yang tak terduga datang. Semisal obrolan bermafaat soal blog dan bagaimana kita mengelola blog. Saya yang anak bawang tentu merasa terbantu dengan pengetahuan dari senior seperti mereka soal dunia blogging. Tak hanya itu, kadang juga berbagi tentang event-event yang bagus untuk dikunjungi. Dengan bergabung bersama mereka, setidaknya ada tiga event yang pernah saya hadiri dan keduanya mendapatkan benefit yang lumayan.

Many thanks for Blogger Muda Gesrek! Haruskah kita bikin brand untuk grup ini? HAHA.

Dalam grup whatsapp, Uni Dzalika bertanya, “apa alasan kamu ganti domain?”

Saya sempet berpikir. Hmmm apa ya? Biar keren? Lah template saya masih berantakan gitu kok, apalagi di EYD-nya.

Lalu saya jawab, “biar ada kenang-kenangannya.”

Iya, kenang-kenangan. Barangkali memang lebih terlihat keren dengan menggunakan dotcom atau domain berbayar lainnya dan bisa menjadi bargaining kita jika nanti mau menyeriusi dunia blogging

Tapi lebih jauh, saya merasa, dengan adanya dotcom ini, jadi memotivasi untuk membuat tulisan yang berkualitas ke depannya. Yang juga bisa bermanfaat bagi yang membaca, bukan sekadar posting curhatan alay. Sesuai firman Allah yang mengatakan sebaik-sebaiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi makhluk lainnya. So, semoga dotcom ini bisa menjadi berkah bagi saya dan yang lainnya. Aamiin.

Setelah dotcom ini, masih banyak PR yang harus saya rapihkan, seperti edit template, konten, dan post foto. Cita-cita sih pengen punya satu rubrik khusus untuk resensi buku atau novel yang saya baca. Semoga selalu ada waktu yang pas untuk mengeksplorasi laman emafitriyani.com ini.

Sekian dulu.

Salam hangat dari saya yang memang sedang hangat badannya karena demam.

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In #TalkaboutPapua Cerita Kopi Wamena

Mengenal Keseksian Kopi Wamena


Jika Anda mencari teman setia, maka jawabannya adalah kopi. Kapanpun dan dalam suasana apapun, sebagian orang menganggap kopi adalah kawan yang memberikan banyak inspirasi. Aroma yang khas dan ragam rasa dalam secangkir kopi dapat membuat pikiran peminumnya rileks. Tapi semua itu tergantung selera. Pada akhirnya, kopi yang tepat akan menemukan penikmatnya sendiri.

Menyoal selera, dalam khasanah kopi Nusantara, Indonesia memiliki cukup banyak jenis kopi, mulai Sabang sampai Merauke, beberapa daerah potensial perkebunan kopi melahirkan banyak produk kopi lokal dengan rasa mendunia. Sebut saja Kopi Luwak, Kopi Gayo dari Aceh, dan Kopi Toraja yang sudah pamornya sudah tak terbantahkan di dunia internasional. Selain daerah itu, terselip sebuah kopi dari tanah Papua.

Namanya Kopi Wamena. Seperti pesona Papua yang seksi karena keindahan alamnya, Kopi Wamena juga tumbuh menjadi primadona bagi penikmat kopi. Kopi ini memiliki beberapa keistimewaan karena tumbuh di lembah Baliem, daerah pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut dengan suhu 20 derajat. Sebuah posisi yang juga berpengaruh pada kualitas kopi, menjadikan kopi ini dengan cita rasa ringan dan memiliki keharuman tajam yang nikmat.

Untuk tingkat keasaman, Kopi Papua Wamena cukup rendah. Hal ini diduga karena faktor letak geografisnya yang banyak pegunungan. Barista sekaligus Q Grader dari Djournal Coffee, Sendydjaja Genta Susilo pun menuturkan Kopi Papua menempati urutan pertama varietas kopi yang paling unggul di Indonesia. "Jika boleh memilih lima, pertama adalah kopi Papua. Rasanya sangat menarik, pengaruh segi geografis," tutur pria yang akrab dipanggil Sendy itu dalam acara public cupping di Grand Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Keistimewaan lain dari Kopi Wamena adalah sifat tanamannya yang tak bisa tumbuh sendiri sehingga ia hidup di antara naungan pohon lain di sekitarnya, seperti Kaliandara, Erytrhina, dan Abizia. Belum lagi sifat pohon ini yang tumbuh alami sehingga 100% organik, yang membuat kopi ini berbeda dengan kopi yang ditanam dengan pupuk kimia. Sebuah nilai untuk khas cita rasa Kopi Wamena yang sudah terkenal di mancanegara.


Tak hanya Kopi Wamena yang tumbuh di lembah Baliem, tanah Papua faktanya memiliki daerah lainnya seperti kopi yang tumbuh di Lembah Kamu di daerah Nabire, di sisi timur dataran tinggi, yang mengelilingi kota Moanemani. Diketahui, dua daerah tersebut memproduksi 230 ton kopi per tahunnya.

Yuk guys, ngopi dulu biar hati nggak dingin terus jalanin hidup ini :)

*ilustrasi

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In 500 x 2 Fiction Challenge Fiksi

[Fiction Challenge] | Gara-gara Denis (Part 1)

Challenge from Fajrin: “Kuota” [W-3]
“Jadi itu alamat blogmu yang baru?” seseorang berbicara di seberang sana.

“Ini siapa?” kataku bertanya sambil melihat kembali nomor asing di layar handphoneku.

“Tulisan yang manis,” jawabnya disertai tawa lalu dilanjutkan berkata,“ternyata kamu masih menyukaiku? Ini benar-benar mengagetkan,” suaranya tiba-tiba berubah menjadi serius.

(Tiga jam sebelumnya)

Sent.

Satu kata muncul pada tab emailku yang menjadi penanda selesainya pekerjaanku hari ini. Meski sebenarnya tak pernah ada kata selesai dalam dunia yang kujalani. Senantiasa revisi dan revisi. Macam menulis skripsi saat kuliah dulu.

“Artikel rubrik persona udah kukirim ke email, Mas,” tulisku dalam pesan singkat.

Sambil memandangi langit-langit restoran cepat saji dan menyenderkan badanku pada kursi, aku mengangkat kedua tangan ke atas.

“Aaah,” kataku disertai helaan nafas panjang. Aku melihat lagi judul berita yang kutulis yang masih terpampang dalam laman word: Denis The Lunar System: Bermusik Jalan Hidupku.

“Kebetulan yang membahagiakan hanya ada dalam imajinasi. Lihat duniamu, sungguh berkilauan. Sementara aku, ah… dunia nyata takkan berbaik hati padaku. Hadapilah dan bertahanlah, Dinar. Hanya blog yang menghendakimu menulis yang indah sesuai imajinasimu,” ucapku dalam hati sambil menepuk kedua pipi untuk menyadarkan diri.

Sebuah laman dengan tulisan yang lebih panjang juga masih terbuka di layar laptopku. Tulisan yang lebih enak untuk kubaca. Tulisan yang kubuat sambil tersenyum dan mengawang jauh pada imajinasi yang indah. Tulisan yang sangat subjektif dan menjadikanku satu-satunya orang paling berharga, paling diinginkan. Meski begitu, ketika kubaca untuk kedua kalinya, kadang harus kuakhiri dengan helaan nafas yang panjang dan tundukkan kepala seperti orang kehilangan harapan. Sesekali mataku juga berair.

Tulisan kedua itu berjudul: Aku Bermusik untuk Menemukan Cintamu. Tulisan dengan judul menggelikan ini kupublish ke blog. (Selengkapnya di sini)

*ilustrasi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In 500 x 2 Fiction Challenge Fiksi

500 X 2, Proyek Mengasah Kemampuan Menulis Fiksi

gif by Fajrin

500 x 2, what? Gope dua maksudnya? Terdengar seperti lagi nawar beli gorengan atau tahu bulat ya? Eh tapi gorengan di Jakarta mah mana dapet sekarang gope dua? Tahu bulat yang suka mangkal deket halte busway Kebon Pala, Jatinegara aja seribu satu ya! Jangan ada yang beranggapan 500 x 2 ini konspirasi gerakan untuk menurukan harga tahu bulat atau gorengan ya! Meski, gorengan sekarang mahal-mahal bikin makin susah mahasiswa yang seret kiriman uang dari orangtua. Tak apa, kadang-kadang bubuk gorengan yang kriuk-kriuk bikin pusing itu masih bisa menolong lolongan perut kita kok :) *duh perih kenang masa lalu.

So, 500 x 2 ini merupakan proyek bersama antara gue dan Fajrin! Dua orang yang dipertemukan dalam nasib kerasnya mencari pekerjaan di Jakarta. Halaaah~~

Berawal dari obrolan suatu hari yang melelahkan sepulang kerja dan makan di Sarinah, Fajrin, yang obrolannya sering random tapi cerdas ini mengusulkan untuk membuat tantangan menulis fiksi 500 kata dalam seminggu sebagai upaya mengasah kemampuan menulis fiksi kami yang masih tumpul nan berkarat ini diksinya. Setiap tulisan yang sudah jadi dipost di https://twoonceaweek.wordpress.com .

Sebagai dua orang yang memiliki mimpi bisa mempunyai karya fiksi secara utuh, kami berharap tulisan receh yang kami tulis ini semakin hari semakin menjadi dollar, menghasilkan tulisan yang layak dibaca, syukur-syukur bisa dibukukan di Gramedia. Ehemm, uhuk!

Oya, Fajrin ini desainer grafis terkece lho di kantor. Lulusan IKJ dan tercatat sebagai mahasiswa terajin (terbukti lulus sarjana tepat waktu), jadi buat kalian yang perlu jasanya untuk membuat karya grafis yang bagus, sila kontak ke fajrinfathia@gmail.com :)

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Dua Kodi Kartika KeKe Busana Reportase Review

[Review Film] Ika Kartika, Pemilik KéKé Busana Bercerita Kisahnya dalam Dua Kodi Kartika


Apa yang kalian pikirkan tentang sosok seorang ibu? Bagi setiap anak, ibu adalah panutan. Menjadi seorang ibu adalah salah satu profesi paling mulia. Saya rasa semua orang pasti setuju. Saking mulianya, surga pun berada di bawah telapak kakinya.

Bayangkan, surga yang dijanjikan Tuhan dengan segala keistimewaannya berada di bawah telapak kaki seorang perempuan, tak peduli telapak kakinya semulus artis terkenal atau telapak kaki yang kasar dan pecah-pecah, jika ia tulus dan gigih membesarkan sang anak dengan cara halal, maka surga nan indah berada di bawahnya.

Kesan ini juga yang saya dapatkan dari kisah seorang ibu biasanya yang bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan yang kemudian beralih menjadi seorang penjahit. Adalah Ika Kartika, perempuan tangguh yang berhasil mengembangkan usahannya di bidang konveksi dengan brand KéKé Busana.

Kisahnya diputarkan tadi malam (1/8) dalam sebuah film dokumenter dalam Gala Premier Dua Kodi Kartika di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Pusat. Film yang bedurasi sekitar satu setengah jam ini mengisahkan mengisahkan secara gamblang kepada kita rumus Man Jadda wa Jadda tak pernah meleset bagi orang-orang yang gigih. Dan Ibu Tika, begitu panggilannya, menjadi pembuktiannya. 

Memulai dari dua kodi busana yang dijahit dan dijajakannya sendiri, KéKé Busana tumbuh menjadi salah satu produsen busana muslim yang memiliki corak warna-warni dan berbahan adem yang banyak digemari keluarga di Indonesia.



Dalam film ini, tak hanya menyuguhkan kisah usahannya dari nol hingga bisa menggurita seperti saat ini, tapi juga menyuguhkan pada kita tentang peran suami yang mempercayakan keputusan istri untuk membangun usaha dan membantu keuangan keluarga. Yang tak luput adalah kisah-kisah atau kesaksian dari orang-orang di sekitar Ibu Tika ketika awal membangun usaha KéKé Busana.

Adalah Bu Rus dalam film ini yang menjadikan film ini tak hanya bercerita tentang kesuksesan KéKé Busana secara searah, tapi juga berbagai arah. Bagian wawancara dengan Bu Rus, mantan karyawan Ibu Tika ketika awal berdiri KéKé Busana, menerangkan kepada kita semua bahwa seseorang yang sukses dan besar saat ini lahir dari perjuangan dan dukungan yang ikhlas dari orang-orang di sekelilingnya, salah satunya Bu Rus dalam kehidupan KéKé Busana dan Ibu Tika. Kemunculan Bu Rus menjadi autokritik bagi Ibu Tika dan manajemennya saat ini bahwa ada orang-orang “dahulu’ yang sederhana dalam membangun KéKé Busana hingga sukses saat ini.

Di luar urusan visualisasi dalam film dokumenter ini, secara keseluruhan saya menikmatinya sebab banyak sekali nilai-nilai penting yang bisa diambil dalam kisah Ibu Tika. Salah satu yang paling dan sangat membekas dalam benak saya ketika menonton tadi malam adalah keinginan Ibu Tika untuk menyekolahkan anaknya hingga ke luar negeri.

Tentu, keinginan ini bukan karena ingin gaya-gayaan bisa mengirim anak belajar ke negara lain, tapi keinginan terdalam seorang ibu yang ketika muda sangat memimpikan bisa sekolah di luar negeri. Saya masih ingat ketika anak bungsunya sedang main piano ditemani sang ibu, ada percakapan di antara keduanya yang membuat saya ingin menangis.

Kalau tidak salah begini:
Anak: ma, kenapa sih ingin menyekolahkan kak uni dan kak (saya lupa nama ana keduanya) ke luar negeri?
Ibu Tika: (saya lupa detail ucapan Ibu Tika tapi kira-kira cita-citanya ketika muda tak kesampaian untuk sekolah ke luar negeri saat ini bisa terealisasikan ke anak-anaknya)

Saya merasa ada kedekatan dengan Ibu Tika pada adegan ini karena saya ingat dengan kedua orangtua di rumah. Suatu hari, bapak saya pernah berucap begini: “Ema sudah lulus SMA saja bapak bersyukur. Artinya, bapak bisa menyekolahkan anak lebih tinggi dari pendidikan bapak dan umi sendiri. Apalagi sekarang sampai bisa kuliah”. Suatu pencapaian sekaligus harapan bagi orangtua kepada anak-anaknya.


Ini sebuah film sederhana dengan cerita yang tak sederhana. Sukses terus Ibu Tika!



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments