In Mandiri Art Reportase

Belajar Sejarah Membosankan? Coba Deh Kunjungi Pameran Lukisan Istana Negara bareng Mandiri Art

Pelajaran sejarah seringkali membosankan. Setidaknya itu yang barangkali sebagian dari kita yang pernah mengalaminya di bangku sekolah dulu. “Ah, pelajaran sejarah. Pasti ngantuk, “ kira-kira begitu keluhnya.

Tapi, sejarah tak bisa dilepaskan dari perkembangan masa lalu sebuah bangsa. Sejarah menjadi bagian yang bisa saja membahagiakan atau menyakitkan bagi negara.  Bagaimana pun rasanya, sejarah tetap harus dikenang, sebab banyak pelajaran yang bisa diambil. Misalnya, dengan mengingat kembali sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia akan menimbulkan jiwa nasionalisme kita. Dengan mengenang sejarah bangsa sendiri, kita juga bisa berkaca untuk bisa menghargai apa yang sudah dilakukan pahlawan kita di masa lalu untuk lepas dari belenggu penjajah dan meraih kemerdekaan seperti yang sedang kita nikmati saat ini.

Nah tapi gimana nih supaya belajar sejarah tak selalu berakhir dengan uap-uap-an dari mulut dan mata yang kuyu?

Historia Jadi Alternatif
Sebenarnya, di era seperti saat ini, banyak cara untuk belajar sejarah secara asyik lho. Sebut saja majalah Historia yang dipimpin oleh Bonnie Triyana. Majalah bulanan ini menyampaikan laporan sejarah dengan cara anak muda. Sajian tulisan yang mereka sajikan disampaikan dengan bahasa yang asyik sehingga kalangan anak muda bisa menyerap informasi masa lalu tanpa harus mengerutkan kedua alis mereka.

Sepengalaman saya mewawancara Bonnie Triyana, ia membeberkan bagaimana mengelola Historia menjadi alternative bacaan sejarah anak muda saat ini. Katanya, di tengah-tengah media mainstream yang serentak memberitakan korupsi dan kebobrokan negara, Historia justru menyajikannya dari perspektif masa lalu.

“Seringkali kita membuat keputusan yang salah karena tidak pernah belajar dari masa lalu,” ujar Bonnie di kantor redaksi Historia, Tanah Abang.

Baginya, penting sekali untuk anak mudah terus senantiasa belajar sejarah dan memperkaya kemampuannya akan masa lalu bangsanya sendiri. Bonnie percaya betul, ia tidak ingin pemuda seperti—meminjam perkataan Pramoedya Ananta Toer—“bangsa yang tidak tahu dari mana asalnya, tidak akan pernah tahu ke mana akan datang”.

“Pemuda yang ahistoris tidak akan pernah tahu dirinya mau ke mana. Dengan bahasa yang populer, kami memberi pilihan lain agar pemuda mengenali bangsanya dalam sebuah cerita masa lalu yang mudah dipahami,” katanya.

Bonnie memang menjadikan pemuda sebagai “antek-anteknya”. Menurutnya, “jika sejarah dibaca oleh orang tua, jadinya ya klangenan. Sebatas nostalgia. Tapi jika ia dibaca oleh anak-anak muda, jadi bahan pembelajaran”.

Pameran Lukisan Istana
Jika kalian, khususnya para mahasiswa yang suka gratisan, kalian tetap bisa belajar sejarah secara asik. Caranya, rajin-rajinlah mengikuti diskusi di kampus atau luar soal sejarah atau menghadiri pameran yang bertemakan sejarah, seperti pameran lukisan istana negara yang dilaksanakan sejak 1 Agustus ini sampai akhir bulan!

Selama sebulan penuh ini, Galeri Nasional mengadakan pameran lukisan yang selama ini hanya bisa dinikmati di dalam Istana Negara dengan tema: "17|71:  Goresan  Juang  Kemerdekaan”.
Kini, masyarakat umum bisa menikmatinya. Lukisan yang kalian nikmati pun terdiri dari berbagai lukisan yang selama ini menghiasai berbagai istana yang ada di Indonesia, seperti Istana  Negara, Istana  Merdeka,  Istana  Bogor,  Istana  Cipanas,  dan  Istana Yogyakarta.

Berikut daftar lukisan yang dipamerkan pihak Istana, Galeri Nasional, Mandiri Art:
1.            Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat I, 1946
2.            Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
3.            Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
4.            Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
5.            Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955 
6.            Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
7.            Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
8.            Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
9.            Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
10.          S.Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
11.          S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947.
12.          S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
13.          S. Sudjojono, Mengungsi, 1950
14.          S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949
15.          Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
16.          Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
17.          Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
18.          Soerono, Ketoprak, 1950
19.          Ir. Sukarno, Rini, 1958
20.          Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
21.          Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
22.          Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
23.          Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
24.          Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
25.          Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
26.          Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjingsing, 1949
27.          Srihadi Soedarsono, Tara, 1977
28.          Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950an)

Yuk, jangan lupa bawa teman, keluarga, atau pacarmu datang ke sini!


http://www.adinugroho.my.id/2016/08/nyeni-mandiri-art-seni-untuk-rakjat.html

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment