In #InovasiBCA #MyBCAExperience Lomba BblogID Review

Pengalaman Kemudahan Bertransaksi dengan Produk BCA

Ini dia produk BCA yang saya pakai

Hi, assalamualaikum!

Sudah tanggal 3 Oktober nih! Siapa yang sudah gajian? Pasti banyak ya? Salah satu fenomena dari tanggal muda ini banyaknya transaksi yang dilakukan para ladies kan? Hayo siapa yang suka diam-diam ngecek online shop di komputer kantormu? Meski sudah gajian, jangan kalap belanja ya, guys!

Nah, ngomongin olshop, adakah dari kalian yang pakai produk BCA atau Bank Central Asia? Saya mau kasih tau nih, ada kompetisi buat blogger soal pengalaman pribadi menggunakan produk-produk dari BCA. Karena saya sendiri pakai BCA, mau ikutan juga berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition! Siapa tau bisa menang, atau paling nggak ya berbagi cerita soal pengalaman pribadi menggunakan BCA, siapa tau ada yang tertarik dengan cerita saya dan berjodoh. Eh!

So, ini dia cerita pengalaman saya dengan BCA. Mohon siapkan tisu dan jangan baper ya! XOXO.

Menjadi mahasiswa perantauan membuat saya harus kos di sekitar kampus. Kondisi ini juga memaksa saya untuk bisa membiasakan diri menjadi masyarakat urban. Kenapa? Karena ternyata cukup banyak hal baru yang harus saya lakukan ketika pindah ke Jakarta. Salah satunya soal transaksi pembayaran kuliah di UIN Jakarta, kampus saya.

Pernah, ada pengalaman yang merepotkan ketika saya dan ibu ke kampus membawa uang cash sebesar Rp 7 juta untuk bayar uang kuliah pertama kali. Pas sampai kampus dan berbaur dengan para mahasiswa baru yang ditemani orangtua masing-masing, ibu saya bercerita kalau daftar ulangnya murah, dikira sampai Rp 5-7 juta karena dia sudah membawa uang sebanyak itu di dompet. Kenalan ibu pun nyeletuk.

“Bawa uang Rp 7 juta di dompet, Bu? Bahaya sekali. Bagaimana kalau dicopet atau hilang? Kenapa tak di rekening saja?”

Tentu, jawaban yang keluar dari mulut ibu sudah ketebak: tak punya rekening.

Pengalaman keribetan lainnya adalah ketika saya mulai menjalani hari-hari di kampus. Karena bukan dari keluarga berpunya dan bapak saya tak punya gaji bulanan sebab ia seorang pedagang harian, saya pun harus pulang ke rumah seminggu sekali. Selain untuk berkumpul bersama keluarga di rumah, pulang berarti meminta jatah uang jajan dan segala keperluan kuliah untuk seminggu ke depan.

Saya yang selama sekolah di kampung tak pernah memiliki rekening apalagi menggunkan ATM, cukup dikagetkan ketika disuruh pihak kampus membuat rekening untuk bisa mengikuti program beasiswa. Jika diingat-ingat, ada gap dan kekikukkan ketika saya pertama kali membuat rekening dan akhirnya menggunakan kartu tips berhologram di sebuah ruangan kotak sempit untuk mengambil uang! Iya, di ruang ATM itu saya pernah terjebak cukup lama. Bukan terjebak masa lalu, tapi kebingungan bagaimana mengecek saldo dan mengambil uang. Maklum, namanya juga pengalaman pertama.

Memang, rekening yang saya buat pertama kali bukan BCA, tapi salah satu bank BUMN yang memang berafiliasi di kampus-kampus negeri, seperti kampus saya. Perjumpaan saya pertama kali dengan BCA justru terjadi ketika saya masih SD (Sekolah Dasar). Kala itu, usaha yang dijalani bapak saya mengharuskan beliau punya rekening. Detik itulah perkenalan saya dengan buku rekening berwarna biru tua, bergambar emas, dan berwarna putih pada kata BCA itu di mulai. Saya bolak-balik buku itu. Ada nominal yang tertera di dalamnya yang tidak saya mengerti yang mana dari deretan angka-angka itu yang milik bapak. Berapa banyak uang bapak? Pikir saya kala itu.

Waktu berjalan. Saya melihat lagi buku rekening itu tergeletak di dalam laci lemari kamar orangtua saya. Rupanya tak pernah digunakan lagi karena usaha bapak saya bangkrut sehingga tak ada lagi alasan untuk beliau menerima gaji ke dalam rekening itu. Mau menabung pun tak ada uang sebab bapak beralih menjadi pedagang buah harian. 

Jadilah, buku rekening Tahapan BCA itu sebuah legenda di rumah kami. Satu-satunya kenangan dalam keluarga saya yang namanya begitu familiar sebab ketika saya mencari sisir rambut misalnya, BCA “selalu menyambut” saya. Persis seperti tagline-nya “Senantiasa di Sisi Anda”. He-he-he.

Seperti cinta yang pernah hilang lalu kembali lagi, interaksi saya dengan BCA secara personal terjadi ketika saya bekerja di sebuah perusahaan media digital agency setahun lalu sambil menyelesaikan skripsi.

Kenapa saya memilih BCA?

Mmm... sebenarnya karena kantor menyuruh saya membuat rekening Tahapan BCA. Awalnya saya senang, karena katanya potongan tiap bulannya murah. Tapi ketika saya mendaftar kira-kira Desember 2015, saya diberitahu kalau tahun depan ada kenaikan potongan bulanan. 

"Wah sama saja dong dengan bank lain?" kata saya dalam hati. 

Yah sudah mau bagaimana lagi, saya tetap senang karena artinya setiap bulan saya bisa mengambil uang, kan sudah bekerja dan mendapat gaji! Uhuk.

Menggunakan rekening Tahapan BCA berarti juga menggunakan produk BCA lainnya. Kebetulan, sebelum membuat rekening BCA, saya sudah punya kartu Flazz BCA untuk naik Transjakarta. 

Total, produk yang saya gunakan dari BCA adalah Rekening Tahapan BCA, Debit BCA, Flazz BCA, m-banking BCA, dan baru-baru ini saya buatkan adik saya yang juga merantau karena kuliah, Xpresi BCA. Meski tak dapat buku rekeningnya, ternyata potongan bulanan di Xpresi BCA sangat murah! Cocok untuk adik saya yang masih kuliah.

Untuk Flazz BCA, saya sangat terbantu sebab saya bekerja di Jakarta dan harus menggunakan commuterline setiap harinya, Senin-Jumat, dari Bogor ke Jatinegara. Dengan Flazz BCA tentu saya tak terjebak pada antrian mengular seperti mengisi THB ataupun Top Up KMT KCJ. Jadi, kemudahan Flazz meminimalisir ketinggalan kereta. Nyaris setahun saya pakai Flazz pun tak pernah saya  mengantri saat isi ulang di mesin EDC yang ada di stasiun.
Antrian di loket THB. Padahal udah jam 9 malam :( Nah jadi, beberapa hari lalu kan Flazz saya yang warnanya kuning keemasan itu rusak. Alhasil, ngantri isi ulang THB di Stasiun Tebet. Dengan muka yang udah capek banget, berharap isinya cepet eh ternyata antriannya sepanjang ini padahal udah jam 9 malam lho! Ya... gitu deh kalau nggak pake Flazz, ngantri!


Nah, ini foto kedua pas saya udah di dalam peron yang ke arah Bogor. Iseng foto, lihat antrian masih mengular sampai batas parkiran motor. Masih tetep ngantri :)


Ta-daaaa! Gerah juga harus ngantri lama di Stasiun Tebet akhirnya punya Flazz baru. Belinya di Halte Busway Lebak Bulus, nitip sama temen kantor. Gambarnya lucuk!
Tapi sayang, tak semua stasiun memiliki mesin itu seperti di Stasiun Cilebut di mana saya pergi bekerja, hanya berdiri gagah mesin EDC BCA tapi tak berfungsi sama sekali. Eh, tapi sepertinya baru-baru ini mesinya berfungsi lagi. Sedangkan di Statiun Tebet dan Stasiun Jatinegara yang saya lewati benar-benar tak memiliki mesin EDC BCA. Amat disayangkan, sebab kedua stasiun itu merupakan stasiun besar dengan jumlah penumpang yang sangat banyak layaknya Stasiun Sudirman dan Tanah Abang.

Oh iya, satu lagi yang mengganggu. Entah karena kartu Flazz saya yang sudah mulai rusak karena digunakan setiap hari atau mesin tap in dan tap out yang kurang sensitif membaca Flazz saya, tapi ketika saya gunakan Flazz di mesin tap in/out di halte busway, lancar-lancar saja. Itu kenapa ya?

Selain Flazz, kemudahan lain yang saya gunakan dan rasakan adalah Debit BCA. Hampir di semua pusat pembelajaan, baik yang besar maupun bazar-bazar kecil menyediakan pembayaran lewat Debit BCA. Hal ini tentu sangat menguntungkan saya manakala belanjaan saya memiliki nominal yang kira-kira kalau bayar cash akan dibulatkan oleh kasirnya. 

Tapi dengan Debit BCA, nominal yang harus saya bayar sesuai dengan yang tertera di label harga. Terlebih di minimarket, nggak ada lagi tuh kasir minta “100-200 rupiahnya mau disumbangkan kak?”. ATM BCA juga ada di mana-mana, jadi mudah untuk transaksi. Seperti di dekat rumah saya, ada ATM BCA di dua minimarket yang bersebelahan di Jalan Cilebut, Bogor.

Ada lagi produk BCA yang saya pakai? Ada! Dan yang ini paling kece menurut saya!!

Dari semua produk BCA yang saya gunakan, yang paling memudahkan aktivitas saya adalah m-banking BCA. BCA menjadi bank yang pertama bagi saya untuk menggunakan kemudahan bertransaksi via m-Banking. 

Karena keterbatasan pengalaman saya menggunakan produk dari bank, maka ketika petugas Bank BCA menawarkan saya untuk mengunduh aplikasi m-Banking BCA, saya pikir akan saya gunakan untuk transaksi antar rekening atau bank saja. Itu saja. Bahkan saya tak terpikir sama sekali kalau di m-Banking bisa mengecek saldo. Sungguh, saya ketinggalan jaman sekali.

Maka, ketika aplikasi itu sukses terunduh, saya mulai keasikan dan sangat dimudahkan, misalnya ketika transfer via virtual account online shop atau pun ojek online. Dengan m-banking BCA pula saya mendapatkan banyak potongan tarif di Gojek. Dan, yang paling saya tunggu dari m-banking, apalagi kalau bukan cek saldo bertambah atau tidak di tanggal muda hanya dengan sentuhan tangan seperti hari ini!

Sebagaimana layaknya orang jatuh cinta pada pandangan pertama, maka, dengan segala pengalaman pertama pula saya  menggunakan produk-produk BCA, sangat membantu dalam bertransaksi. Mudah dan cepat.

Yang amat disayangkan, hingga tulisan ini saya buat, smartphone saya belum juga nyala karena habis kebanting keras 3 hari lalu. Jadi, benefit yang saya rasakan bersama BCA dalam segenggam gawai pun terganggu sekali. Tak bisa order Gojek apalagi bayar via Gopay dan transfer lainnya.

Itu dia #MyBCAexperience! Semoga dengan menulis pengalaman pribadi menggunakan produk BCA bisa memenangkan hadiah. Yah lumayan kan, kalau misalnya dapat untuk tambah-tambah benerin HP saya. Syukur-syukur bisa beli yang baru, hehe. Eits tapi ini bukan kalimat rayuan atau sedang nepotisme lho ya! Saya cuma berharap, siapa tau :) Karena yang bisa merayu hanya BCA yang selalu bilang "Senantiasa di Sisi Anda" (para nasabah). 

Buat kalian yang mau ikutan lomba atau berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition info lengkapnya klik di sini atau ini sebelum tanggal 31 Oktober 2016! Hadiah kece banget berupa Macbook Pro, iPhone 6, Mirrorless Camera Nikon J15, dan uang tunai sebesar @ Rp 1.000.000 untuk tiga orang pemenang!


Nih saya buatin link mudahnya di bit.ly/MYBCAEXPERIENCE . Jangan lupa klik sebelum 31 Oktober 2016!
 Kuy berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition

Related Articles

6 komentar:

  1. Wah, ceritanya menarik. Gua juga sempat ngalami hal-hal kayak gitu waktu bayar kuliah dan harus antri di bank, sebelum akhirnya memilih punya ATM.

    ReplyDelete
  2. Iya rul, antri di bank padahal harus buru-buru isi KRS. Riweh. Padahal kalau pake ATM lebih cepet bayarnya. Yah... masa-masa ndeso dulu waktu kuliah ye

    ReplyDelete
  3. Sama, Bu, saya juga pakai Flazz BCA karena naik Transjakarta :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bu Dina Mardiana, pakai Flazz lebih mudah :)

      Delete
  4. Iya Ema, gue juga pake rekening BCA. Eh jadi pake produk BCA yang lainnya deh kayak FLazz dan Sakuku. Over all sih gampang. Dan yang asik, gue pake Xpresi BCA, potongannya per bulan cuma 5k!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kamu pake BCA juga key! Hooh, kemarin abis bikin adikku rekening Xpresi BCA, potongannya murah banget.

      Delete