In 500x2 Fiction Challenge Fiksi

Rayuan Sambal Durian

Challenge from Fajrin: “Sambal Durian” [W-4]
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku.

“Bodoh. Kenapa terima iklan ini kalau menyiksa diri sendiri?” tanyaku kembali.

Aku masih mendongakkan wajah ke mukanya, menunggu jawaban keluar dari mulutnya. Kurasakan suara napasnya panas dan saling berlarian. Sedangkan matanya kadang menatapku, kadang dialihkan ke sekitar. Jakunnya bergerak naik turun, terlihat ia menelan ludah berkali-kali. Sesekali mengatupkan mulutnya, membasahi bibirnya yang merah. Dahinya berkeringat, kedua pipinya juga. Sesuatu yang tak bisa dia sembunyikan jika sedang begini.

“Ini brand pertama yang mengundangku. Bagaimana bisa menolak? Aku akan dianggap sombong. Kamu tau, aku masih baru. Lagi pula ini acara charity,” katanya memecah keheningan.

“Tapi bagaimana ceritanya perusahaan sekelas mereka tidak menyediakan minum? Ceroboh sekali. Jangan mentang-mentang kamu baru, lantas mereka mengabaikannya. Kamu harus menuntutnya”.

Tak menjawab, ia mengelap dahinya dengan tangannya dan berkali-kali membasahi bibirnya.

“Masih?”

Dijawabnya pertanyaanku kali ini dengan anggukan. Lalu ruangan kembali sunyi seperti 15 menit yang lalu. Tapi kali ini dadaku yang terasa ngilu. Kumundurkan langkahku. Ia lagi-lagi lebih banyak diam.

“Jangan bohong. Ini hanya akal-akalan kan?” tanyaku menelisik.

“Akal-akalan? Kita sudah lama kenal, kamu juga sudah tau. Aku nyaris pingsan tadi.”

“Sudah lama apanya? Hanya dua bulan. Ingat, hanya dua bulan. Kamu lupa?” kataku.

Ia hanya menjawab kata maaf dan terima kasih. Sebuah jawab klasik dari seorang pria yang sedang di hadapanku ini. “Ah, sudahlah,” kataku sambil membalikkan badan, mencoba mengintip ke jendela di samping pintu.

“Dinar… kamu apa kabar?”

Pertanyaannya menghentikan tanganku yang hendak menggerakan gagang pintu. “Baik. Hidupku kuanggap selalu baik,” jawabku sekenanya.

“Kenapa… kamu ada di sini?”

“Apalagi kalau bukan menolongmu”.

“Maksudku di acara ini?”

Aku membalikkan badan dan berkata, “Aaaah, aku disuruh meliputmu lagi. Disuruh redaktur, padahal kemarin baru saja meliputmu”.

“Sepertinya redakturmu menyukaiku. Seberapa cantik dia?”

“Dia laki-laki. Seorang pria menjelang paru baya yang masih melajang. Puas?”

Dia tertawa puas sekali.

“Wah, rupanya kamu sudah punya tenaga, ya?” tanyaku setengah sinis. (Selengkapnya klik di sini)


*ilustrasi

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment