In 500 x 2 Fiction Challenge Fiksi

Sepucuk Surat Kertas Nasi


Challenge from Fajrin: “Nasi Padang” [W-5]
Suara telepon tak terangkat terus terdengar dari layar handphoneku. Berkali-kali mati, kucoba tekan tombol OK lagi. Tak ada jawaban. Tak ada suara, “Halo, Nak” yang biasa kudengar.
Aku benci mendengar suara telepon tak terangkat. Aku benci menunggu ketidakjelasan kabar. Sungguh aku ingin menangis. Tapi aku masih harus menyelesaikan tulisan ini agar bisa mendapatkan seamplop uang berisi upahku menulis seminggu untuk membeli obat Ayah.
Jarum jam dinding berlogo sebuah perusahaan media digital itu menunjukkan pukul 16:49.
“Tinggal 11 menit lagi. Aku harus menentukan judul tulisan ini dan segera pulang,” kata-kataku dan jantungku berlarian di dada.
Kuraih tas kesayangan sejak SMA berwarna merah berlogo LFC dari kursi yang sejak pagi kududuki. Langkahku tergesa-gesa. Bagian belakang sepatu bututku yang menganga mencoba bertahan dari kecepatan langkah kakiku.
Di hadapanku, sebuah rumah makan tampak ramai, sesuatu yang kami impikan sejak Ayah kehilangan kakinya setahun lalu. Dari balik kaca bening berukuran besar kulihat orang-orang mengambil tisu di meja makan. Sesuatu yang lazim dilakukan ketika orang sedang atau selesai makan. Tapi, orang-orang itu malah mengelap matanya bukan mulutnya dengan tisu di meja makan.
Adikku yang paling besar berlari menghampiriku lalu memelukku. Air matanya membasahi pundak kemejaku.
“Ayah sudah nggak ada, Kak,” hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Aisha.
Aku berlari hingga depan pintu rumah makan. Kakiku bergetar ketika menyaksikan sesosok tubuh di selimuti kain bercorak batik coklat pekat.
Hari ini Ayahku meninggal. Lebih tepatnya dia mengakhiri hidupnya dengan tak meminum obatnya malah menenggak cairan obat untuk tanaman yang biasa dia gunakan untuk menyuburkan pohon cabai di belakang rumah.
Sepucuk surat kutemukan keesokan harinya di dalam laci kasir.
Dinar, Aisha, dan Aima, maafkan Ayah tak bisa menjadi sosok yang bisa menjaga kalian selamanya. Ayah tak ingin menjadi beban bagi kalian. Untuk Dinar, kamu ayah dan ibu beri nama agar menjadi sumber rejeki kami. Dan itu benar adanya. Saat-saat awal ayah membuka rumah makan ini, kita sangat maju dan makmur. Sekarang, ayah titip Aisha dan Aima kepadamu. Jadilah kakak yang menjaga adik-adikmu sampai kapanpun. Maafkah Ayah.
Kulipat surat dari kertas nasi itu. Lembar terakhir dari kertas nasi di rumah makan Nasi Padang yang kami miliki.
-----
Cerita lainnya bisa kalian baca di sini ya!
Happy reading!!

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment