In 500 x 2 Fiction Challenge Fiksi

Sianida


Challenge from Fajrin: "Sianida" [w-9]
Seorang pelayan menghampiriku ketika aku baru saja duduk, menyodorkan sebuah buku menu. Aku memilih kopi.
Sambil menunggu, pandangan kuedarkan ke sekeliling kafe. Kafe ini lumayan besar tapi tak banyak pengunjungnya. Diam-diam aku bersyukur memilih kafe ini. Suasanya sepi dengan alunan musik mellow, pas untuk mengobrol.
“Huh, jangan gugup Nis, jangan,” kataku sambil menarik nafas dalam-dalam.
Kulihat di depanku tampak seorang perempuan muda sedang sibuk dengan laptopnya. Beberapa buku tebal memenuhi mejanya. Sesekali dia menyuap beberapa french fries di samping laptopnya. Telponnya berbunyi.
“Gue lagi di kafe nih. Iya, kafe si Jessica,” katanya menyahut di balik telponnya.
Kuedarkan juga pandangan ke sudut lain. Ada dua orang perempuan sedang asyik mengobrolkan sesuatu dari salah satu gadget mereka. Samar-samar kudengar nama yang sama seperti yang dibilang perempuan sebelumnya.
“Iya, si Jessica kan?,” begitu katanya. Oh, jadi pemilik kafe ini namanya Jessica. Aku mengangguk-angguk.
Salah satu perempuan itu menengok ke arahku. Seketika aku jadi salah tingkah, seolah habis ketangkap basah menguping pembicaraan mereka. Tapi, perempuan di sebelahnya menunjuk sebuah bunga besar yang dipajang di depan mejaku. Rangkaian bunga itu memang aneh. Bunganya sangat cantik karena kelihatannya itu bunga hidup tapi aneh kenapa diletakkan di situ. Padahal sudah banyak bunga pajangan di kafe ini. Space untuk bunga itu juga terlalu besar. Cukup untuk satu meja dan empat kursi. Bunga yang penuh misteri. Hmm…
Seorang perempuan baru saja membuka pintu kafe. Kulihat matanya mencari sesuatu ke kiri dan kanan. Aku melayangkan tangan memberi kode. Langkahnya semakin dekat. Kegugupanku timbul lagi. Gugup. Gugup sekali.
“Hai, mmm… silakan duduk,” kataku terbata-bata membuka pembicaraan.
Dia pun duduk dan meletakkan tasnya di bangku di meja kami yang kosong. Lalu ditenggaknya minuman dari tumbler berwarna itu. Ah, tumbler itu masih dipakainya, kataku dalam hati sambil memperhatikannya.
Kini, dua orang sedang duduk bersama berhadapan. Tapi tak ada pembicaraan sepatah katapun. Hening. Sepi. Kaku sekali. Atau hanya aku yang gugup? Kuseruput kopi yang kupesan  untuk menghilangkan kegugupan itu.
“Kamu mau pesan…” belum selesaikan aku bicara, secara bersamaan dia juga berbicara untuk pertama kalinya. Aku jadi salah tingkah. (Selengkapnya di sini)

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment