In Cerita

Kepergian yang Kembali Mengingatkan


Apapun bentuknya, perpisahan memang nggak enak. Selalu ada yang merasa tidak siap ditinggalkan. Itu juga yang terjadi pada momen kepergian dua karyawan Medialogy, bulan ini.
Saya, mulanya kaget dengan ucapan Mas Vicky kala mengatakan “izin dulu” pagi itu. Dikira izin mau merokok dulu, seperti yang sering dia lakukan, atau izin menemani istrinya mengurus tesis. Lah tapi kan kalau merokok, ya tinggal keluar saja. Istrinya pun sudah sidang beberapa pekan sebelumnya. Jadi, Mas Vicky mau izin ke mana?
“Saya mau izin nggak kerja lagi di sini,” kira-kira begitu perkataannya yang saya ingat.
Saya yang meja duduknya berhadapan dengan meja kerjanya sontak langsung melihat ke wajah mas yang umurnya jauh di atas saya itu. Terlihat raut mukanya yang jarang berekspresi itu, tetap tidak bereskpresi, hahaha. But, I felt that how he’s canggung, merasa tidak enak, dan lain sebagainya.
Selepas kepergian Mas Vicky, our maknae (istilah dalam bahasa Korea yang artinya anggota kita paling muda) pergi meninggalkan kami semua di kantor. Beritanya disampai laki-laki bernama lengkap Rezian Al Islami ini Jumat kemarin (10/2) yang menjadi momen terakhir kebersamaan kami. Dia bilang katanya sudah diterima di tempat kerja lain, yang sudah pasti menurut saya lebih baik.
Lagi, lagi yang saya sebelkan hanya satu. Dia pergi sangat mendadak sama seperti Mas Vicky. Padahal, daun jatuh ke tanah pun umumnya selalu menunjukkan bahwa dia harus pergi dengan warnanya yang menguning.
Tapi,
Mas Vicky dan Rere bukan daun yang tak punya pilihan akan jatuh di mana. Mereka dahan yang selalu mencari arah matahari. Mereka penentu masa depan mereka sendiri. Maka, ketika hijrah ke tempat baru adalah kesempatan yang hanya bisa dilakukan saat ini juga, sesungguhnya itu sesuatu yang wajar. Begitu kira-kira saya membesarkan hati menerima kepergian mereka.
Pasti, pasti  banyak kenangan bersama mereka selama beberapa bulan terakhir.
“Udah jalan lima bulan, Mbak,” begitu kata Rere saat bikin video testimoni perpisahan kemarin.
Pertemuan singkat atau lama, sebenarnya sama saja. Yang membedakan, apa yang sudah kita lewati selama bertemu, bersua, berinteraksi bersama mereka sebelum benar-benar pergi?
Untuk Mas Vicky, yang saya kenang adalah air mukanya yang jarang sekali berekspresi. Mau sedang kelaparan, sedang banyak kerjaan, sedang happy, susah ditebak. Dia juga bilang kalau dia punya semacam kekurangan dalam hal eskpresi, suatu ketika. Mas Vicky juga menjadi orang terajin saat pamit pulang dengan izin satu-satu ke meja kerja kami. Saya selalu bilang kalau tindakan Mas Vicky itu mubazir banget. Hahaha. Hampura, Mas.
Untuk Rere. Adik kecil kita ini selalu manggil saya dan Key, rekan kerja kami, dengan panggilan “Mbak” dan jujur saja saya terganggu dengernya. Bukan apa-apa, karena selama ini saya dan Momo, rekan kerja kami yang lain, yang paling muda. Jadi, pas ada yang lebih muda masuk dan memanggil saya, “Mbak Ema” duh kok ya nggak rela.
(Aku masih muda lho, buktinya status masih mahasiswa… tahun ketujuh!) :(
Tapi, di luar panggilan “Mbak Ema”, Rere sosok yang menyenangkan meski beberapa kali saya terjebak suasana canggung dengannya. Entah kenapa. Sering juga merasa nggak enak sama Rere karena sering telat kasih notif buatin header design, sementara dia selalu cepat mengerjakan tugasnya. Dan satu-satunya yang saya lihat dia tidak sekadar adik kecil adalah karena dia berani ambil keputusan untuk nyicil rumah KPR beberapa bulan lalu. Visioner dan husband material banget! Semua teman-teman di kantor pun kasih jempol atas langkahnya beli rumah di usianya yang baru menginjak 21 tahun!
Ema kapan?
Jujur saja, sepanjang perjalanan pulang kerja kemarin, jadi mikir dalam hati, “Jadi Ema kapan? Kapan ikut pergi juga dari kantor?”
Alasan saya ingin pindah barangkali sama dengan mereka berdua. Saya harus segera keluar dari kantor ini dan terbang jadi apa yang saya inginkan.
Bukan, bukan karena di perusahaan agensi media digital ini tidak kerasan. Saya mendapatkan banyak kebaikan dari kantor ini, dari atasan-atasan saya terutama Mas Har yang sudah begitu baik pada saya sejak hari kedua masuk kantor hingga hari ini, setahun lebih. Meskipun dalam perjalanannya, saya sering beda pendapat terutama dalam urusan politik (hahaha) tapi tidak menghilangkan respect saya pada beliau yang sudah baik sekali mengayomi bawahannya dengan caranya sendiri.
Tapi, saya rasa sudah terlalu lama di sini, makanya harus segera mencari tempat peraduan baru. Tempat di mana cita-cita saya terealisasi: menjadi wartawan kembali.
Sejak di kampus saya memang tidak sekritis kawan-kawan pers lainnya, tulisan-tulisan saya juga hanya berkakhir di tabloid Institut. Berbeda dengan teman-teman sesama pers kampus yang beberapa kali artikel atau fotonya dimuat koran nasional sekaliber Kompas saat sebagai mahasiswa.
Tapi,
saya meyakini dunia jurnalistik adalah pilihan saya untuk berkembang. Entah apakah nanti setelah menikah, saya akan memilih pekerjaan lain yang lebih familyable, tapi untuk saat ini, 2017 harus menjadi tahun comeback saya ke dunia jurnalistik yang pernah sebentar sekali saya cicipi, 4 tahun lalu saat bergabung di Majalah Bisnis Global.
Saya rindu bagaimana berjuang di lapangan mencari berita. Bertemu dengan orang baru setiap harinya. Mengamati para pejabat dan orang berkedudukan penting di negara ini. Mencium bau aroma parfum mahal dari balik jas atau batik mereka yang tak kalah mahal ketika saya menengedahkan handphone untuk doorstop.
Banyak dari wartawan pemula yang saya temui bahkan mengobrol empat tahun lalu kini sukses di media mereka masing-masing. Seperti Bang David Bahtiyar Rizal yang sekarang setiap pagi selalu nongol membawakan berita liputan 6 pagi atau Rosaline yang dulu masih magang di koran Media Indonesia, kini sudah liputan ikut Jokowi kunjungan ke China di Metro TV. Jangankan mengenal,  mengingat saya di kemudian hari pun pasti tidak akan terlintas di benak mereka.
Hmm… Lalu kenapa saya masih saja terjebak pada hal-hal administratif seperti SKRIPSI?
Ah, jika membahas mengapa saya telat lulus akan panjang ceritanya. Biarkan malam ini saya mengingat momen kepergian dua rekan kerja di kantor dan menyerap dalam-dalam energi mereka dalam mengambil keputusan pindah dan memilih kehidupan yang diinginkan karena setiap kepergian pasti memiliki alasan.
Jadi, Ema kapan?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Cerita

Adakalanya

Adakalanya waktu kita terkuras habis untuk mengingat yang lalu-lalu, setelah itu baru tersadar, “ah, buang-buang waktu.” Dan itu juga yang saya perhatikan ketika dalam kondisi di mana kenangan dengan mantan terulang, terngiang, dan akhirnya terjebak nostalgia.
Komponen stimulusnya bisa datang dari mana saja. Lagu, tulisan, gambar, atau hal-hal yang akan membuat dahi mengernyit, seperti bau parfum bayi sampai sebuah bangku bisu di parkiran kampus.
Menurut saya, tak ada yang salah dari mengingat mantan. Sebab, kadang saya menikmati masa-masa terkenang dengan mereka. Iya, mereka. Yang satu pernah menjadi pacar beneran lalu putus, yang satu lagi agaknya tidak terlalu jelas statusnya tapi bertahan sampai bertahun-tahun dan sekarang tak jelas kabarnya.
Ketika ingatan itu muncul, saya hanya berpikir betapa saya pernah merasa jadi perempuan paling bahagia ketika bersama mereka. Yang satu, pernah menyanyikan sebuah lagu dari Padi di sebuah warteg dekat kampus. Tampak saat itu saya malu-malu. Waktu berlalu, lagu itu tetap menjadi lagu kebesaran ketika saya sedang ingin mengingat dia. Semacam original soundtrack dari film yang sudah selesai. Hahaha.
Ketika lagu itu diputar, saya seperti Nobita yang diajak Doraemon memasuki mesin waktu. Alam bawah sadar saya menyajikan banyak potongan peristiwa, umumnya sih yang indah-indah saja karena kejadian yang menyakitkan ada pada lagu lain, masih dari Padi. Hahaha.
Saya pernah begitu senang ketika menyimak cerita-cerita darinya. Tapi kata teman, itu hanya alasan supaya dia meninggalkan kesan. Tapi saya menikmati obrolan dari satu cerita ke cerita lain seperti mic yang setia pada penyanyi yang mengalunkan lagu ke lagu berikutnya.
Saya juga pernah begitu nyamannya ketika hendak mau tidur, ada seseorang di sebrang telpon yang menemani kicauan tidak jelas saya soal kuliah seharian, sampai terlelap tidur.
Ketika mengingat segalanya, kadang membawa saya seperti sedang di sebuah pengadilan. Gugatan-gugatan kecil hadir dalam diri, memberontak ingin diberi kejelasan. Mengapa dan mengapa kebahagian itu harus terputus? Di mana saya harus mencari keadilan? Peninjauan kembali sampai naik banding sudah saya upayakan, tapi penolakan justru yang saya temui di hadapan.
Titik terendah dari aktivitas mengingat mantan adalah ketika saya sudah mulai menuruni anak tangga yang gelap. Hanya suara langkah kaki saya yang ragu sekaligus penasaran. Mengapa di bawah sana gelap gulita? Ke mana cahaya yang selalu membuat senyum saya sumringah.
Anehnya, matahari mulai menyilaukan mata saya, muncul dari tembok bolong di bawah lorong tangga. Cahaya itu perlahan masuk dari celah-celah seolah membisiki kuping saya bahwa,
“kamu mungkin saja ketakutan dalam gelap, kesakitan dalam ketidakmengertian mereka pergi. Tapi kamu harus tau, dari cerita-cerita mereka saat masih bersama, ada harapan-harapan baik tentang mimpi mereka sebagai dirinya sendiri. Mereka yang ingin membahagiakan keluarganya dan mereka yang berusaha meraih cita-citanya. Jadi, mungkin mereka buruk di sisi lain, tapi arif di sudut yang lain seperti matahari yang muncul dari celah-celah lorong yang gelap.”
Kalimat itulah yang selalu saya pakai sebagai penutup prosesi dari mengingat mantan. Tak ada imajinasi lebih, apalagi mewujudkannya dengan manuver-manuver ala politisi. HAHAHA

Pada kedua orang itu, saya hanya berharap hidupnya selalu dipenuhi kebahagiaan,  kapan pun dan di mana pun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #GatheringTabloidKu #ReviewBrand Blogger Kids Parenting Reportase TabloidKu

#GatheringTabloidKu: Memilih Bacaan Cerdas untuk Ibu Muda


Hi, assalamualaikum! 
Setelah kemarin saya bahas soal memilih minyak goreng yang baik untuk keluarga, postingan kali ini masih ngobrolin soal keluarga! Tepatnya soal media informasi bagi para ibu muda yang saya dapatin ketika #GatheringTabloidKu beberapa hari lalu. Penasaran?
Perkembangan teknologi saat ini menyediakan begitu banyak media informasi dari berbagai platform online. Contohnya website. Hanya tinggal klik kata kunci yang kita inginkan, keluarlah semua data informasi yang kita cari. Mudah, sangat mudah. Tapi apakah semua informasi di website bisa dipercaya? Apalagi saat ini, wabah hoax di mana-mana.
Kekhawatiran ini juga yang pasti melanda orangtua yang membutuhkan informasi seputar keluarga, terutama bagi ibu muda. Kenapa saya mengkhususkan untuk ibu muda? Salah satu alasannya sih karena saya calon ibu muda! He-he-he.
Eh tapi memang sebagai calon ibu muda, saya mikir bagaimana ya nanti kalau saya menikah, bagi waktu untuk anak-suami dan untuk diri sendiri? Pasti lelah. Belum lagi kalau ternyata saya juga harus bekerja? Terus kalau ibu muda kan biasanya masih baru belajar berumah tangga, mereka kesulitan nggak ya untuk urus anak, apalagi kalau ternyata si ibu muda ini dibawa sama suaminya dinas di luar kota, jauh dari ibu-bapak di rumah. Masa harus setiap waktu nelponin ibu untuk tanya gimana caranya ganti popok atau bayinya panas tengah malam? Kan nggak mungkin juga.
Karena itulah, saya berpikir kalau informasi soal parenting and kids itu penting banget diperoleh ibu muda. Masalahnya, saat ini banyak sekali media informasi bertebaran, ada yang bisa dipercaya, banyak juga yang hoax.
Tapi keraguan saya sedikit terobati dengan sebuah tabloid cetak yang membahas soal keluarga. Namanya TabloidKu. Sempet agak penasaran sih ini tabloid apa, apakah tabloid yang menyediakan ramalan horoskop setiap bulannya plus memuat berita jadiannya Selena Gomez dan The Weeknd dan sang mantan Bella Hadid cemburu? Atau ini tabloid yang mengulas soal boyband Korea disertai poster gede di dalamnnya? Eh, ternyata bukan :p
Saya dan Uni Dzalika bersama Pemred TabloidKu, Diana Damayanti usai terima hadiah sebagai penanya terbaik  di acara #GatheringTabloidKu:))

Semuanya terjawab ketika Pemimpin Redaksi dari TabloidKu, Diana Damayanti menjelaskan kepada saya dan blogger lain di acara #GatheringTabloidKu yang diadakan di QQ Kopi Tiam, Plaza Indonesia (1/2/17) lalu, apa sih Tabloidku dan concernnya ke mana? Ternyata jodoh nggak ke mana! Di saat saya lagi nyari pendamping hidup, eh maksudnya di saat lagi cari referensi soal parenting and kids yang enak dibaca, Tabloidku hadir menjadi salah satu pilihan yang cerdas. Kenapa?
Ibu Diana Damayanti mengatakan fokus dari tabloid yang sudah berdiri sejak Februari 2016 ini adalah untuk memberikan edukasi ke para orangtua tentang kehidupan keluarga yang disajikan dalam tulisan menarik.
Antusiasme dua calon ayah muda dalam menanyakan soal TabloidKu. Bagus juga nih kalau laki-laki peduli soal parenting and kids!
Rubrik-rubrik dia TabloidKu juga beragam. Ada tema besar yang dibahas, ada juga rubrik tips dan DIY (do it yourself), gaya hidup, resep, soal dapur, sampai cerita dari para selebritis tentang kehidupan rumah tangga mereka yang bisa menginspirasi para pembaca.
Yang lebih menariknya lagi, TabloidKu ini bisa didapatkan dengan gratis setiap kali belanja di gerai Alfamart atau  Alfamidi seluruh Indonesia dengan belanja minimal Rp 50.000, setiap awal bulan.
Eits tapi jangan salah, hanya karena TabloidKu ini gratis, menurut saya yang sudah membaca beberapa edisi cetaknya, isi dari Tabloidku ini bagus sebab selain edukatif, juga isinya entertaining dan tidak terkesan menggurui dan membosankan soalnya artikelnya disampaikan dengan bahasa yang mengalir, tidak kaku, dan enak dibaca.
Oh iya, selain edisi cetak, ada juga edisi online di tabloidku.id yang bisa jadi pilihan cerdas para ibu muda yang lagi cari tips resep makanan bayi yang tiba-tiba lapar tengah malam!
Buat para ibu muda yang mau tahu banyak tentang TabloidKu, bisa mampir ke:
Twitter TabloidKu
Instagram TabloidKu
Facebook Fan Page TabloidKu
Karena banyak informasi menarik di sana. Selamat membaca! 

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In #ReviewBrand dikiiiiit nempel Reportase SUNCO

Agar Makanan di Rumah Tidak Menjadi Silent Killer Bagi Keluarga Tercinta

simposium edukasi soal minyak goreng yang baik bareng Christian Sugiono. Baik plus ganteng! Minyaknya baik, Tiannya ganteng. Lengkap


Makanan merupakan asupan penting bagi tubuh. Karenanya juga penting banget buat tahu apa yang menjadi komposisi makanan yang kita konsumsi setiap hari. Tapi, selain bahan makanan, ada yang tidak boleh kita abaikan lho, yaitu penggunaan minyak goreng ketika memasak makanan.
Nah, postingan  terbaru saya kali ini akan mengulas seperti apa sih minyak goreng yang baik untuk kita pakai? Penasaran? . Yuk, check this out!

Pertama, sapa dulu yuk!

Hi, assalamualaikum bloggers! Apa kabarnya? Sudah sarapan pagi ini? Makanannya enak? Sehat? Omong-omong soal makanan, biasanya kalian makan makanan yang beli di warteg atau di bikin sendiri di rumah? Lebih banyak menu makanannya direbus, dikukus, atau digoreng? 

Kalau kalian penyuka sesuatu yang gurih dan garing, pasti suka banget sama sesuatu yang digoreng-goreng ya! Yaps, sesuatu yang digoreng, apalagi di Indonesia yang terkenal dengan menjamurnya tukang gorengan di jalan-jalan, pasti sangat akrab dengan makanan yang digoreng. Entah itu tempe goreng, tahu goreng, ayam goreng, jamur kriuk yang digoreng, sampe tahu bulat dadakan pun digoreng!

Enak, ringan, dan simple bukan?

Tapi pernah nggak sih kalian terpikir apakah makan makanan yang digoreng itu berdampak buat tubuh kita?

Jawabannya: IYA!

Pasti, buat pecinta makanan gorengan, misalnya yang dibeli di luar. Tahu bulat dadakan contohnya, minyak yang ada di wajan mereka itu kan banyak, dan pastinya digunakan berkali-kali untuk menggoreng tahu bulat, apalagi kalau permintaan banyak. Pokoknya selagi minyaknya masih banyak di wajan, dan tak berdampak pada perubahan warna tahu bulat yang dimasak, minyak gorengnya akan terus dipakai.

Barangakali kita tahu itu dan sadar kalau itu nggak baik. Okelah, jadinya besoknya mungkin saya, kamu, dan kita jadi nahan diri buat nggak sering-sering lagi beli tahu bulat atau gorengan di luar sambil berseloroh dalam hati, “ih itu minyaknya udah dipakai berkali-kali. Nggak baik. Mending makan masakan di rumah aja, lebih bersih minyaknya.”

Eh, tapi jangan salah! Apakah masakan di rumahmu juga sudah baik minyak gorengnya?

Jawabannya: BISA YA, BISA TIDAK, bukan?

Lho memang apa yang membedakan minyak yang baik dan yang nggak, Ems?

Ya, ada dong. Setahuku, minyak goreng yang baik itu yang melewati beberapa kali proses penyaringan. Itu sih yang aku lihat di iklan-iklan di TV. Ketahuan memang korban iklan.

Tapi kayaknya bukannya banyak juga ya minyak goreng yang ngiklanin produknya yang melewati banyak penyaringan?

IYA! Tapi, saya sendiri sih terpukau sama iklan ketika salah satu chef killer, bertato, tapi ganteng minum minyak goreng di TV! Sempet mikir, ah nih iklan ngada-ngada. Namanya juga jualan, pasti kecap satu!



Eh, dugaan sinisku itu terbantahkan ketika ikut acara symposium yang membahas SUNCO. Iya, minyak goreng yang bisa diminum itu lho. Dari paparan symposium itu, banyak yang mengatakan kalau penggunaan minyak goreng itu vital banget buat tubuh kita. Jadi, bukan hanya makanannya saja yang perlu diperhatikan, justru kandungan ketika makanan itu diolah menjadi masakan yang menggunakan minyak goreng juga TAK BISA DIABAIKAN BEGITU SAJA!

yang bikin yakin buat pakai SUNCO karena dikiiiit nempel di makanan


And, minyak goreng yang nempelnya dikit di makanan kita adalah solusi yang pas untuk kita konsumsi. Dan SUNCO adalah jawabannya, iya, SUNCO minyak goreng baik dikit nempel di makanan. Aku udah buktiin itu pas masak kemarin di rumah, pas bakwan jagungnya aku taro di atas tisu, minyak yang tembus ke tisunya cuma sedikit. Saya juga ikut minum minyak goreng itu, mmm…. Aneh tapi nggak ada bau-bau minyak goreng yang saya beli sebelumnya. Bening. 

Nah, jadi, buat kamu yang aware banget sama kesehatan keluarga, harus jeli buat milih minyak goreng yang baik untuk masakan kita, biar bisa terus sehat sekeluarga ketika makan masakan di rumah. Jadi kalau kamu nggak mau masakan di rumah jadi silent killer, jangan lupa goreng dengan SUNCO!

Happy Cooking Guys!

Silakan follow media sosial di bawah ini untuk mengenal minyak goreng yang baik:






Read More

Share Tweet Pin It +1

9 Comments