In Cerita

Adakalanya

Adakalanya waktu kita terkuras habis untuk mengingat yang lalu-lalu, setelah itu baru tersadar, “ah, buang-buang waktu.” Dan itu juga yang saya perhatikan ketika dalam kondisi di mana kenangan dengan mantan terulang, terngiang, dan akhirnya terjebak nostalgia.
Komponen stimulusnya bisa datang dari mana saja. Lagu, tulisan, gambar, atau hal-hal yang akan membuat dahi mengernyit, seperti bau parfum bayi sampai sebuah bangku bisu di parkiran kampus.
Menurut saya, tak ada yang salah dari mengingat mantan. Sebab, kadang saya menikmati masa-masa terkenang dengan mereka. Iya, mereka. Yang satu pernah menjadi pacar beneran lalu putus, yang satu lagi agaknya tidak terlalu jelas statusnya tapi bertahan sampai bertahun-tahun dan sekarang tak jelas kabarnya.
Ketika ingatan itu muncul, saya hanya berpikir betapa saya pernah merasa jadi perempuan paling bahagia ketika bersama mereka. Yang satu, pernah menyanyikan sebuah lagu dari Padi di sebuah warteg dekat kampus. Tampak saat itu saya malu-malu. Waktu berlalu, lagu itu tetap menjadi lagu kebesaran ketika saya sedang ingin mengingat dia. Semacam original soundtrack dari film yang sudah selesai. Hahaha.
Ketika lagu itu diputar, saya seperti Nobita yang diajak Doraemon memasuki mesin waktu. Alam bawah sadar saya menyajikan banyak potongan peristiwa, umumnya sih yang indah-indah saja karena kejadian yang menyakitkan ada pada lagu lain, masih dari Padi. Hahaha.
Saya pernah begitu senang ketika menyimak cerita-cerita darinya. Tapi kata teman, itu hanya alasan supaya dia meninggalkan kesan. Tapi saya menikmati obrolan dari satu cerita ke cerita lain seperti mic yang setia pada penyanyi yang mengalunkan lagu ke lagu berikutnya.
Saya juga pernah begitu nyamannya ketika hendak mau tidur, ada seseorang di sebrang telpon yang menemani kicauan tidak jelas saya soal kuliah seharian, sampai terlelap tidur.
Ketika mengingat segalanya, kadang membawa saya seperti sedang di sebuah pengadilan. Gugatan-gugatan kecil hadir dalam diri, memberontak ingin diberi kejelasan. Mengapa dan mengapa kebahagian itu harus terputus? Di mana saya harus mencari keadilan? Peninjauan kembali sampai naik banding sudah saya upayakan, tapi penolakan justru yang saya temui di hadapan.
Titik terendah dari aktivitas mengingat mantan adalah ketika saya sudah mulai menuruni anak tangga yang gelap. Hanya suara langkah kaki saya yang ragu sekaligus penasaran. Mengapa di bawah sana gelap gulita? Ke mana cahaya yang selalu membuat senyum saya sumringah.
Anehnya, matahari mulai menyilaukan mata saya, muncul dari tembok bolong di bawah lorong tangga. Cahaya itu perlahan masuk dari celah-celah seolah membisiki kuping saya bahwa,
“kamu mungkin saja ketakutan dalam gelap, kesakitan dalam ketidakmengertian mereka pergi. Tapi kamu harus tau, dari cerita-cerita mereka saat masih bersama, ada harapan-harapan baik tentang mimpi mereka sebagai dirinya sendiri. Mereka yang ingin membahagiakan keluarganya dan mereka yang berusaha meraih cita-citanya. Jadi, mungkin mereka buruk di sisi lain, tapi arif di sudut yang lain seperti matahari yang muncul dari celah-celah lorong yang gelap.”
Kalimat itulah yang selalu saya pakai sebagai penutup prosesi dari mengingat mantan. Tak ada imajinasi lebih, apalagi mewujudkannya dengan manuver-manuver ala politisi. HAHAHA

Pada kedua orang itu, saya hanya berharap hidupnya selalu dipenuhi kebahagiaan,  kapan pun dan di mana pun.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment