In Deterjen Total Almeera Reportase

7 Alasan Kenapa #HALALituharusTOTAL dengan Deterjen Total Almeera


Hai semuanya, ada postingan baru lagi nih di blog! Kali ini, saya akan membahas tentang deterjen halal pertama di Indonesia yang memiliki ajakan untuk #HALALituharusTOTAL. Penasaran?

Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman blogger diundang sebuah acara deterjen. Jujur saja, undangan blogger kali ini bikin saya mikir keras. Ketika baca infonya di Whatsapp tentang produk deterjen halal, dahi saya sedikit berkerut, bertanya-tanya: 

“Deterjen halal? Kayak gimana tuh bentuknya? Apa bedanya dengan deterjen yang lain? Biasanya kan label halal dipakainya di produk makanan saja!”

Rasa penasaran saya kemudian perlahan terjawab ketika datang ke acara peluncuran produk mereka, Deterjen Halal Total Almeera di Bebek Bengil, Jakarta Pusat (15/03). Setidaknya dari acara yang berlangsung selama 3 jam itu, saya menyimpulkan beberapa poin yang recommended untuk kamu yang sering nyuci. Apa saja? Ini dia 7 alasan kenapa #HALALituharusTOTAL dengan Deterjen Total Almeera!


1. Produk Deterjen Halal Pertama di Indonesia
Keliatan kan logo MUI-nya? Alhamdulillah.

Total menjadi deterjen berlabel halal pertama di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari logo MUI yang tertera di semua kemasan Total Almeera. Iya, Total Almeera adalah produk terbaru dari deterjen Total yang sudah lama ada di Indonesia. Di bawah PT Total Chemindo Loka, Total sebagai deterjen senior (sudah 10 tahun) mengeluarkan produk terbarunya dengan nama Total Almeera, yang diambil dari bahasa Arab, artinya putri raja atau wanita cantik.

Pas di acara gathering kemarin itu, kata Direksi PT Total Chemindo Loka, Pak FX Gunawan, keputusannya bersama tim untuk mengeluarkan produk deterjen berlabel halal karena didorong oleh kebutuhan masyarakat Indonesia. Iya, kamu tahu sendiri kan kalau di Indonesia itu jumlah muslimnya mayoritas, jadi pastinya penting dan peduli dengan kehalalan produk yang dipakai atau makanan yang dikonsumsi, termasuk saya!


2. Letak Halalnya di mana Sih? Ternyata di …
Kemasan cair dan bubuk.
Nah ini, pertanyaan yang saya ingin tanyakan kepada pihak pembuat deterjen Total Almeera, halalnya di mana, Pak Gunawan?

Dia kemudian menjelaskan bahwa kehalalan mereka pertama terdapat pada logo MUI yang tertera di semua kemasan Total Almeera. Sebelum mendapatkan label halal, mereka melakukan serangkain pengujian, sama seperti berbagai produk yang datang ke MUI.

Pak Gunawan mengatakan, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Total Almeera lolos uji seleksi dari MUI karena aman digunakan, lembut di tangan, dan yang pasti diproses dengan cara-cara yang merepresentasikan konsep halal: bersih, aman, dan tak menggunakan bahan berbahaya yang seperti merusakan pakaian dan kulit manusia, apalagi seperti yang dilarang dalam Islam seperti minyak babi.

Jadi, yang saya tangkap dari omongan Pak Gunawan adalah, barangkali produk deterjen lain pun diproduksi tak jauh berbeda dengan Total Almeera, hanya saja belum memiliki label halal. Sehingga menurut saya, apa yang dilakukan deterjen ini bagus sekali, seperti memberi kepastian hubungan, nggak di-php-in gitu. Kan, sudah halal.


3. Dengan Label Halal dari MUI, Ketenangan Ibadah pun Bisa Didapat
Khusyu via harianamanah.id
Memang sih urusan ibadah itu ranahnya vertikal, hanya antara kamu dan Allah. Begitupun kekushyuan kamu ketika membaca ayat-ayat ketika salat dan merapal doa-doa baik. Tapi, kehadiran deterjen Total Almeera yang berlabel halal ini menurut saya menjadi nilai plus. Ya, karena kehalalannya itu semakin menambah paket lengkap kamu ketika beribadah.

Sering kita denger juga tausiyah dari ustad, di mana pakaian atau tampilan ketika menghadap Allah itu harus yang paling sempurna. Sempurna di sini bukan mukena, sarung, sajadah, atau peci yang mahal lagi bermerek, tapi yang bersih, wangi, dan terhindar dari najis. 

Nah, sederhananya, ketika kamu mencuci mukena, sarung, sajadah, dan peci dengan deterjen yang sudah dijamin kehalalanya, kamu jadi lebih tenang bukan? Alhamdulillah.


4. Iklan yang Menampilkan Sisi Relijiusitas dan Kasih Sayang Ayah
DireksI PT Total Chemindo Loka, FX Gunawan (berdiri di urutan kelima, baris depan) beserta tim produksi Total Almeera, produksi iklan, dan Aa Hadi beserta istrinya, Ceuceu Kirani via radarnasional.com
Iklan adalah media yang ampun untuk mempengaruhi yang menyaksikan. Entah itu ajakan atau persetujuan. Itu juga yang coba ditampilkan oleh Total Almeera dalam menyampaikan pesan halal dengan mengedepankan sisi relijiusitas dan kasih sayang ayah pada anaknya.

Maksudnya gimana, Ems?

Sebagai negera yang mayoritas beragama Islam, relijiutas itu penting di Indonesia, salah satunya ya ketika beribadah. Nah, sisi relijiutas itu kemudian ditampilkan perusahaan ke khalayak dalam sebuah iklan yang kreatif lagi positif berdurasi 2 menit. Nih kamu bisa lihat di sini ya!


Kalau diperhatikan, konsep yang mereka usung di iklan itu tentang ibadah. Di detik pertama video ditampilkan perempuan sedang salat dengan narasi, “ternyata selama ini ibadahku belum sempurna” yang merepresntasikan bahwa banyak aspek yang melatarbelakangi ibadah kita harus sempurna, ya salah satunya dengan #HALALituharusTOTAL.

Hubungannya dengan sang ayah, yang saya tangkap adalah, sosok ayah kerap dinomorduakan karena selama ini (kebanyakan atau studi kasus pada saya sendiri) lebih dekat dengan ibu. Tapi, dalam iklan di atas, sosok ayah justru ditonjolkan, bahwa selama ini perannya sangat besar dan berpengaruh pada kita sebagai anak. Nah, itu pula imej yang ingin ditampilkan Total Almeera.

Dengan menempelkan label halal pada produknya, menurut saya PT Total Chemindo Loka tengah mengajak masyarakat Indonesia bahwa seharusnya semua barang yang memang dipakai di Indonesia harus memiliki label halal: sesuatu yang penting yang kerap dilupakan karena umumnya hanya terdapat di makanan atau minuman saja.


5. Halal untuk Konsumen Harus Dimulai dari Halal dalam Etos Kerja Karyawan Total
Tiga handuk di rumah sudah merasakan Total Almeera.
Apa lagi sih nomor lima? Saya nggak mudeng, Ems!

Begitu kira-kira ketika saya menulis judul poin kelima ini. Tapi kemudian saya ingat penuturan Pak Gunawan di acara gathering itu bahwa sejak timnya menggarap deterjen halal ini, banyak hal-hal positif yang terjadi pada pabrik mereka.

“Karena kita menggarap produk halal, otomatis etos kerja yang dibangun di lingkungan pabrik pun harus baik dalam artian etika antar karyawan sopan, pabrik juga bersih, dan sebagainya” begitu kira-kira katanya.

Jadi, kurang lebih, Pak FX Gunawan ingin menyampaikan bahwa produk halal yang mereka buat juga energi positif dn relijinya harus terpancar dari keseharian di pabrik. Bahasa mudahnya: masa kamu mau ngeluarin produk halal, tapi etos kerjanya serampangan? Ya, harus merepresentasikan the power of halal itu dong!


6. Selain Halal, Teksturnya pun Lembut, Bersih, dan Wanginya Fresh Sekali!
Andai pembaca bisa merasakan memegang deterjen bubuknya! Ya tapi tinggal beli saja, kan sekarang sudah ada di pasaran.
Lembut, wangi, dan mudah membersihkan pakaian yang biasa saya gunakan itu memang benar! Umi saya di rumah sudah menggunakannya, dan kata beliau, cukup ampuh menghilangkan noda di baju. 

Ketika saya coba mencium aroma pada deterjen, wanginya itu bikin seger, tidak menyengat seperti bau parfum.

Yang bikin lembut di tangan itu karena bahan utamanya surfaktan. Jadi nggak bikin tangan panas saat kamu gunanakan ketika cuci baju. I was tried and it’s works!


7. Terdapat Berbagai Ukuran dengan Harga yang Ekonomis Pula!
Ini dia rangkaian produknya via indrifairy.com 
Buat kamu anak kosan atau ibu-ibu yang nggak bisa lepas dari deterjen, kemasan Total Almeera ini terdapat dalam berbagai ukuran dan harga yang bersaing.
  • Deterjen cair 800 ml harga sekitar Rp 18.500
  • Deterjen bubuk 900 gr harga sekitar Rp 17.000
  • Deterjen bubuk 500 gr harga sekitar Rp 9.000
  • Deterjen bubuk renceng 40 gr harga sekitar Rp 1.000
  • Deterjen bubuk kecil harga sekitar Rp 500
Kamu bisa dapetin produk ini di Carrefour, Lulu, AOEN, TipTop, dan minimarket (untuk minimarket masih seputar Jakarta).


BLUR! Ini tangan bibi saya di rumah. Dia juga udah nyobain Total Almeera. Katanya wanginya nyegerin banget!

Itu dia ulasanya dari saya tentang 7 alasan kenapa #HALALituharusTOTAL dengan menggunakan deterjen halal Total Almeera. Kamu bisa setuju atau tidak dengan ulasan saya, tapi saya hanya berpikir bahwa dengan adanya produk baru berlabel halal ini semakin menambah khanazah produk-produk halal yang ada di sekitar kita yang selama ini masih di ranah makanan dan minuman. Jadi, adanya deterjen halal ini, bisa jadi solusi alternatif bagi kamu yang ingin tampil sempurna dan khusyu dalam ibadahmu, karena #HALALituharusTOTAL.


Dan ini saya bersama teman-teman blogger dan Pak Fx Gunawan di antara kita. Coba tebak saya yang mana? XD

Ini bloggers kece yang juga ikut di acara Total Almeera. Mereka mah udah pada senior jadi blogger, dibanding saya yang masih anak bawang!
Selamat mencoba ya! Buat yang sudah coba pakai deterjen ini, bisa share pengalamannya di kolom komentar ya!

----Deterjen aja udah halal, jadi kapan mas halalin saya? Uhuk!-----

Untuk yang masih penasaran tentang produk ini bisa mampir ke:
Website: http://www.totalchemindo.com/
Twitter @TotalAlmeera
Instagram @TotalAlmeera
Fanpage Total Almeera

Terima kasih! 

Read More

Share Tweet Pin It +1

19 Comments

In Reportase

Teknologi Terbaru yang Wajib Kamu Tahu dalam Aplikasi Mandiri Online


Hai bloggers! Beberapa hari lalu saya diundang ke acara press conference Bank Mandiri di Plaza Mandiri, Gatot Subroto, Jakarta. Mereka baru saja mengeluarkan produk terbarunya: Mandiri Online.

Apa itu? Portal berita Bank Mandiri?

Jawabannya: BUKAN!

Mandiri Online adalah aplikasi kece yang akan memudahkan berbagai aktivitas e-banking-mu dan jadi mandiri! Aplikasi ini adalah turunan dari aplikasi yang sebelumnya pernah ada, yaitu m-banking Mandiri.

Lalu apa bedanya? Langsung yuk kita ulas teknologi yang wajib kamu dalam aplikasi Mandiri Online:


1. Menggabung 3 Askes e-banking Sebelumnya dalam Satu Aplikasi
Buat kamu yang penasaran dengan Mandiri Online dan apa bedanya dengan m-banking, inilah jawabannya. Ibarat anak, Mandiri Online adalah bayi yang baru lahir dengan bentuk dan paras wajah yang sempurna, menandingi pendahulunya. Jadi, Mandiri Online merupakan aplikasi terbaru yang dibuat dengan menggabungkan tiga akses banking sebelumnya: m-banking, internet banking, dan phone banking. Ketiga akses itu kini bisa dinikmati dalam satu sentuhan di smartphone. Tinggal klik sama Mandiri Online!


2. Jenis Transaksi yang Menarik. Cocok untuk Kamu yang Tak Sempat ke ATM
Di Mandiri Online, terdapat banyak jenis transaksi yang bisa kamu gunakan. Mulai dari transfer uang antar bank dan rekening, isi pulsa, isi e-money, bayar tagihan listrik, bahkan untuk liburan pun, kamu bisa bayar tiket pesawatmu di Mandiri Online. Jadi, tak perlu lagi mampir ke ATM malam-malam kan?


3. Keamanan Data Nasabah Terjamin dengan Metode Otentikasi
Pernah merasa transaksimu mencurigakan? Padahal tidak merasa transfer? Dengan Mandiri Online kamu tidak usah khawatir karena aplikasi ini sangat aman dari peretas. Hal ini terlihat dari teknologi keamanan data yang diberikan Bank Mandiri dengan melakukan otentikasi. Ketika kamu melakukan regsitrasi di kantor cabang, pihak bank akan melakukan pendataan yang benar. Tak hanya meminta identitas KTP atau no rekeningmu, tapi juga No Hp mu yang aktif untuk otentikasi keamanan di akun Mandiri Onlinemu.


4. Layanannya 24 Jam lho
Selama paket data internetmu lancar dan baterei gadget-mu masih menyala, kamu bisa askes kapanpun dan di manapun Mandiri Online. Jadi, ketika tengah malam kamu kehabisan pulsa padahal lagi asyik telponan dengan si dia di luar sana, kamu bisa langsung isi pulsa via Mandiri Online. Oh iya, ada 5 provider telepon yang ada di Mandiri Online: Telkomsel, Indosat, Three, Halo, dan XL.


5. Bisa Diakses di Website juga!
Tak hanya bisa digunakan di smartphone, kamu juga bisa mengakses Mandiri Online di website lho. Jadi ketika smartphone-mu mati, kamu masih bisa mengaksesnya di website. Ada beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku ketika menggunakan website. Saya sendiri kurang paham. Ada infonya di flyer yang dibagikan, tapi hilang entah ke mana. Kamu bisa make sure dengan langsung datang ke kantor cabang saja sambil registrasi di smartphone!


6. Mandiri Internet Bisnis, Fitur Mandiri Online yang Cocok untuk Entrepreneur
Kalau kamu seorang pengusaha, apalagi usahamu baru saja berkembang, tentu membutuhkan layanan yang bagus untuk mengelola pemasukan dan pengeluaran keuangan perbankan bukan? Di Mandiri Online ada! Namanya Mandiri Internet Bisnis. Di sini, kamu bisa menggunakan fitur kirim gaji karyawanmu hingga pembayaran tagihan dengan klien.


7. Ke Depannya Berbagai Fitur Kece Akan Hadir
Tak ingin berpuas diri pada apa yang baru saja dimulai, di Mandiri Online, Bank Mandiri juga akan menampilkan berbagai fitur dan kemudahan lainnya. Di masa mendatang, nasabah rencananya sudah bisa menikmati berbagai layanan menarik seperti fitur peminjanan uang, pengajuan KPR, dan bahkan biaya transaksi antar bank akan Rp 500.00 saja! Mudah dan murah bukan?

Kesimpulannya dari saya, aplikasi Mandiri Online ini keren sekali. Ibarat paket komplit, kamu unduh satu aplikasi, bisa menikmati berbagai fitur dan layanan menari yang bikin kamu jadi mandiri. Jadi, tunggu apalagi, yuk unduh di sini (untuk Android dan iPhone) sekarang juga!



(Sumber foto: inilah.com)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Cerita Demo Angkot Bogor Ojek Online

Dilema Demo Angkot di Bogor, Keberadaan Ojek Online, dan Postingan Blog Saya yang Tidak Solutif


Sampai hari ini, soal angkot umum di Bogor yang mogok narik karena demo protes ojek online masih hangat diperbincangkan. Mulai dari tetangga rumah, bebeapa penumpang kereta, cuitan di media sosial, dan tentunya sedikit komentar saya di kantor kepada teman yang juga sama-sama dari Bogor.

Banyak dari komentar menarik saya baca dan lihat dari media sosial. Di Facebook misalnya, tidak sedikit yang mengatakan merasa lega karena dua hari belakangan ini (Senin dan Selasa) jalanan Bogor yang biasanya penuh dengan angkot hijau dan biru jadi lengang. Katanya, tak ada lagi angkot yang sembaranga ngetem. Menyebrang pun jadi mudah.

Dua hal itu memang saya rasakan kemarin sore saat turun di Stasiun Bogor hendak ke Botani Square. Di sepanjang Jalan Kapten Muslihat yang biasanya padat oleh mobil pribadi bercampur angkot, kemarin terlihat lengang. Benar-benar lengang.

Lantas saya senang?

Jelas.

Karena perjalanan saya ke Botani Square jadi lebih cepat. Hanya 10 menit saja.

Memang saya naik apa?

Ya, naik ojek online!

Di sinilah letak dilemanya. Lengkapnya, nanti saya jelasakan di bawah.

Masih dari status Facebook, salah guru terbaik yang pernah saya temui berkata:

Hari ini Bogor jadi kota tanpa angkot....
Riweuh ....
Kasian anak anak lagi USBN...
Semangat ya nak...Nun jauh di sana masih banyak siswa yang harus berjalan kaki, mendaki menuruni bukit, menyebrangi sungai untuk bisa sekolah. Kita cuma tidak ada angkot 2 hari kedepan, setelahnya mudah2 kembali seperti sediakala....

Tak hanya di Facebook, teman-teman di Instagram pun dalam banyak storygram mengatakan Bogor tanpa angkot selama 2 hari kemarin terlihat lebih nyaman. Tidak lagi rungsin lihat kemacetan.

LALU…

Lumayan terhitung juga beberapa video yang dibagikan di Facebook dan Instagram tentang bentrok yang terjadi di sekitar Saung Kuring, Jalan Soleh Iskandar, Bogor, dekat kantor cabang Gojek Bogor. Jumlah trayek yang ikut berdemo cukup banyak. Dari pengakuan ojek online yang saya naiki pada Senin malam mengatakan mulai dari angkot 07 Bojong Gede-Pasar Anyar sampai 03 Bubulak-Baranang Siang.

Saya juga lihat beberapa video pihak yang kesal, terbawa emosi, hingga akhirnya melakukan pengrusakan. Bahkan, masih dari pengkuan supir ojek online yang saya temui malam itu, ada yang kawannya sesama ojek online terluka. Berdarah.

Saya jelas terenyak melihat mereka yang terluka. Jalanan Bogor yang saya kenal aman selama ini ramai karena demo angkot Bogor, bukan karena naik BBM tapi persaingan dengan ojek online.

Lalu ada 2 hal yang membuat saya DILEMA.

PERTAMA:

- Sebelum mogok narik dan bentrok beberapa hari ini terjadi, saya sudah merasa begitu dilema, di mana saya jadi baper, apakah tepat keputusan saya menjadi pelanggan setia ojek online. Pernah suatu kali, sehabis pulang dari pasar, saya dan Umi memutuskan naik angkot karena memang itu yang biasa kami pakai bertahun-tahun kalau mau belanja ke sana. Tapi, ada keadaan di mana hati saya terenyuh melihat angkot 07 Bojong yang saya naiki hanya dapat penumpang tiga sampai empat orang: saya, umi, dan dua penumpang lainya (yang mana mereka pun turunnya tak jauh dari lokasi mereka naik. Itu artinya ongkos yang mereka keluarkan sedikit, hanya Rp 3ribu-Rp 4ribu saja.

- Kejadian paling membuat saya lebih dilema adalah ketika saya yang biasanya pergi dari rumah ke Stasiun Cilebut untuk pergi bekerja ke Jakarta naik ojek dekat rumah, perlahan tapi pasti berhenti menjadi pengguna ojek rumahan karena ada ojek online yang jauh lebih murah. Jika dengan ojek rumahan saya membayar Rp 7ribu-Rp 8ribu sekali jalan dengan jarak 2km, dengan ojek online beberapa bulan lalu, saya hanya perlu membayarnya dengan Rp 2ribu saja! Tentu dengan sistem pembayaran go-pay. Kala itu normalnya di waktu tak sibuk, tarifnya sekitar Rp4ribu. Kalau saat ini, sekitar Rp 8ribu dengan go-pay Rp 4ribu Terhitung sudah 3 kali mengalami kenaikan tarif pada Gojek yang setiap hari saya naiki, tapi belum bisa disamakan dengan harga ojek rumahan. Artinya: masih lebih murah ojek online!

- Di satu sisi, saya merasa tidak enak pada abang ojek yang memang tetangga di rumah. Namanya Bang Kartubi. Jika diingat, besar sekali jasa abang ojek ini. Dia pernah begitu berjasa mengantarkan saya untuk mencari lokasi tes SNMPTN (saat ini SBMPTN) dari Cilebut ke Cibinong. Bisa dibilang beliau salah satu orang yang berjasa dalam mengantarkan saya lulus tes SNMPTN karena kala itu selain mengantarkan ke tempat tes yang jauh, sempat meminjamkan uang juga pada saya lantaran saya harus menunggu lama di tempat tes. Kurang baik apa coba? Selama kuliah pun, kalau saya hendak balik ke kosan dari rumah, dia yang mengantarkan sampai stasiun. Hingga saya bekerja selama setahun ini dan sebelum ada ojek online, saya masih minta dijemput olehnya kalau malam-malam tak ada ojek pangkalan. Besar, sangat besar kiprahnya bagi mobilitas saya selama ini.

- Di sisi yang lain, saya juga butuh transportasi yang murah. Sebagai pekerja dan sama-sama pekerja, sudah fitrahnya kalau saya memang tertarik pada jenis transportasi yang menawarkan tarif murah. Itu yang akhirnya membuat saya sudah beberapa bulan ini tak menggunakan jasa ojek rumahan lagi. Ketika saya dengar Bank Kartubi gabung menjadi driver Uber, betapa senangnya saya! Paling tidak saat ini beliau bisa mencari pelanggan yang lebih banyak!

Oke, itu tadi curhatan dilema saya yang pertama! Sekarang mari kita lihat dilema KEDUA yang saya rasakan dilihat dari sisi supir angkot.

Sebenarnya bukan kapasitas saya mengomentari hal ini. Selain takut dibilang sotoy karena memang saat kejadian bentrok, saya juga tidak ada di lokasi. Apalah artinya pendapat perempuan yang dari pagi hingga malamnya dihabiskan di Jakarta. Sekarang malah mau komentar soal demo dan mogok angkot di Bogor! Nggak usah aneh-aneh deh, Ems.

Tapi, mulut saya gatal ingin berkomentar. Saya tahu angkot di Bogor memang sangat banyak jumlahnya. Tapi entah mengapa selama ini saya tak pernah merasa begitu terganggu dengan keberadaan mereka. Pikiran saya sederhana saja: supir angkot itu sebuah profesi yang memiliki nilai ekonomi.

Kenapa angkot di Bogor banyak? Karena banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menjadi supir angkot. Untuk apa? Jelas demi bisa bertahan hidup, untuk biaya menikah, memberi makan keluarga, dan menyekolahkan anaknya. Semua hasil dari narik angkot.

Jadi, ketika para supir merasa jumlah penumpangnya turun drastis dan untuk duit setor pun kurang, jelas mereka resah. Siapa sih yang nggak ketar-ketir melihat naik dari ujung pangkalan ke ujung pangkalan hanya dapat 2-5 penumpang? Itunglah jarak terjauh naik angkot dari Bojonggede ke Pasar Anyar Rp 8.000, dikali 5 penumpang, baru dapat 40ribu. Tapi kan nggak semua penumpang turun jauh. Bagaimana kalau kelima penumpang itu turunnya dekat dan hanya membayar Rp 3 ribu? Rasanya hanya bisa nutupin biasa bensin doang.

Membayangkannya jujur saja membuat saya sedih. Saya berpikir bagaimana kalau yang menarik angkot itu bapak saya? Berapa uang yang harus dia bawa ke rumah? Cukupkah untuk membeli beras, lauk, dan ongkos ketiga anaknya yang masih sekolah?

Berbagai Pihak Harus Duduk Bersama Mencari Solusi
Jujur saja saya tak mengikuti perkembangan mogok angkot ini di media massa, bukan karena saya tak mau tahu. Tapi kesibukan tulisan di kantor benar-benar menyita waktu akhir-akhir ini. Dengan segala kesotoyan yang ada pada benak saya, duduk bersama dan mencari solusi yang tak memberatkan kedua pihak harus segara dilakukan. Bukan hanya bagi persatuan angkutan umum dengan pemerintah, tapi juga penyedia jasa ojek online.

Di sini, saya pikir Bima Arya sebagai Walikota Bogor dan Dinas Perhubungan Kota Bogor menjadi tumpuan bagaimana solusi yang baik bagi semua pihak. Pemda Kabupaten Bogor pun harus ikut berunding bersama. Pemerintah daerah sebagai pelayan rakyat harus  bisa menjadi penengah yang solutif. Sebab tak bijak juga jika menghilangkan keberadaan ojek online, tapi bukan berarti angkotan umum mati perlahan.

Entah apa itu kebijakannya, saya tak tahu, persis seperti judul postingan ini: …. dan Postingan Blog Saya yang Tidak Solutif.

Kalau ada yang berkata, “supir angkot atau ojek pangkalan harus bisa terima kemajuan teknologi saat ini. Kalau nggak bisa menyesuaikan, ya begini jadinya” buat saya itu kurang elok. Buktinya, saat ini sudah banyak kok mereka yang tadinya tak mengerti gadget, tapi dengan kemauan yang keras ingin mengubah nasibnya, beralih ke ojek online.

TAPI….

Bukan berarti mereka yang masih memilih menjadi supir angkot atau ojek pangkalan tak ingin nasibnya berubah dan pasrah pada sepinya penumpang. Saya rasa banyak faktor mendasar mengapa mereka tetap bertahan. Percayalah, tidak semua rakyat mengenah ke bawah selalu punya pilihan seperti yang kalian ucapkan. Justru di sinilah pemerintah, penyedia jasa ojek online, dan persatuan angkutan umum duduk bersama untuk memecahkan solusinya demi bisa makan dan bertahan hidup.

Maka ketika ada pengguna Facebook dan Instagram mengatakan, “Asyik ya Bogor tanpa angkot. Lengang, nggak macet, nggak ada yang ngetem sembarangan lagi” saya kok miris ya bacanya. Sebab, secara tidak langsung komentar menghendaki ketidakberadaan mereka.

Lalu dari mana mereka akan makan kalau tak “menyibukkan” jalanan?

*Postingan ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Saya pun tidak lebih baik ketika menuliskan ini sebab di sisi lain saya pengguna ojek online. Hanya saja saya tengah memposisikan diri sebagai anak dari seorang sopir angkot yang menunggu Bapak saya pulang membawa uang untuk membayar biaya sekolah besok kalau tidak, akan dilarang ujian di dalam kelas.

Terima kasih!

(Sumber foto: http://bogor.tribunnews.com/2017/03/20/pemkot-bogor-masih-telusuri-penyebab-kisruh-sopir-angkot-dengan-ojek-online)

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments