In Cerita Demo Angkot Bogor Ojek Online

Dilema Demo Angkot di Bogor, Keberadaan Ojek Online, dan Postingan Blog Saya yang Tidak Solutif


Sampai hari ini, soal angkot umum di Bogor yang mogok narik karena demo protes ojek online masih hangat diperbincangkan. Mulai dari tetangga rumah, bebeapa penumpang kereta, cuitan di media sosial, dan tentunya sedikit komentar saya di kantor kepada teman yang juga sama-sama dari Bogor.

Banyak dari komentar menarik saya baca dan lihat dari media sosial. Di Facebook misalnya, tidak sedikit yang mengatakan merasa lega karena dua hari belakangan ini (Senin dan Selasa) jalanan Bogor yang biasanya penuh dengan angkot hijau dan biru jadi lengang. Katanya, tak ada lagi angkot yang sembaranga ngetem. Menyebrang pun jadi mudah.

Dua hal itu memang saya rasakan kemarin sore saat turun di Stasiun Bogor hendak ke Botani Square. Di sepanjang Jalan Kapten Muslihat yang biasanya padat oleh mobil pribadi bercampur angkot, kemarin terlihat lengang. Benar-benar lengang.

Lantas saya senang?

Jelas.

Karena perjalanan saya ke Botani Square jadi lebih cepat. Hanya 10 menit saja.

Memang saya naik apa?

Ya, naik ojek online!

Di sinilah letak dilemanya. Lengkapnya, nanti saya jelasakan di bawah.

Masih dari status Facebook, salah guru terbaik yang pernah saya temui berkata:

Hari ini Bogor jadi kota tanpa angkot....
Riweuh ....
Kasian anak anak lagi USBN...
Semangat ya nak...Nun jauh di sana masih banyak siswa yang harus berjalan kaki, mendaki menuruni bukit, menyebrangi sungai untuk bisa sekolah. Kita cuma tidak ada angkot 2 hari kedepan, setelahnya mudah2 kembali seperti sediakala....

Tak hanya di Facebook, teman-teman di Instagram pun dalam banyak storygram mengatakan Bogor tanpa angkot selama 2 hari kemarin terlihat lebih nyaman. Tidak lagi rungsin lihat kemacetan.

LALU…

Lumayan terhitung juga beberapa video yang dibagikan di Facebook dan Instagram tentang bentrok yang terjadi di sekitar Saung Kuring, Jalan Soleh Iskandar, Bogor, dekat kantor cabang Gojek Bogor. Jumlah trayek yang ikut berdemo cukup banyak. Dari pengakuan ojek online yang saya naiki pada Senin malam mengatakan mulai dari angkot 07 Bojong Gede-Pasar Anyar sampai 03 Bubulak-Baranang Siang.

Saya juga lihat beberapa video pihak yang kesal, terbawa emosi, hingga akhirnya melakukan pengrusakan. Bahkan, masih dari pengkuan supir ojek online yang saya temui malam itu, ada yang kawannya sesama ojek online terluka. Berdarah.

Saya jelas terenyak melihat mereka yang terluka. Jalanan Bogor yang saya kenal aman selama ini ramai karena demo angkot Bogor, bukan karena naik BBM tapi persaingan dengan ojek online.

Lalu ada 2 hal yang membuat saya DILEMA.

PERTAMA:

- Sebelum mogok narik dan bentrok beberapa hari ini terjadi, saya sudah merasa begitu dilema, di mana saya jadi baper, apakah tepat keputusan saya menjadi pelanggan setia ojek online. Pernah suatu kali, sehabis pulang dari pasar, saya dan Umi memutuskan naik angkot karena memang itu yang biasa kami pakai bertahun-tahun kalau mau belanja ke sana. Tapi, ada keadaan di mana hati saya terenyuh melihat angkot 07 Bojong yang saya naiki hanya dapat penumpang tiga sampai empat orang: saya, umi, dan dua penumpang lainya (yang mana mereka pun turunnya tak jauh dari lokasi mereka naik. Itu artinya ongkos yang mereka keluarkan sedikit, hanya Rp 3ribu-Rp 4ribu saja.

- Kejadian paling membuat saya lebih dilema adalah ketika saya yang biasanya pergi dari rumah ke Stasiun Cilebut untuk pergi bekerja ke Jakarta naik ojek dekat rumah, perlahan tapi pasti berhenti menjadi pengguna ojek rumahan karena ada ojek online yang jauh lebih murah. Jika dengan ojek rumahan saya membayar Rp 7ribu-Rp 8ribu sekali jalan dengan jarak 2km, dengan ojek online beberapa bulan lalu, saya hanya perlu membayarnya dengan Rp 2ribu saja! Tentu dengan sistem pembayaran go-pay. Kala itu normalnya di waktu tak sibuk, tarifnya sekitar Rp4ribu. Kalau saat ini, sekitar Rp 8ribu dengan go-pay Rp 4ribu Terhitung sudah 3 kali mengalami kenaikan tarif pada Gojek yang setiap hari saya naiki, tapi belum bisa disamakan dengan harga ojek rumahan. Artinya: masih lebih murah ojek online!

- Di satu sisi, saya merasa tidak enak pada abang ojek yang memang tetangga di rumah. Namanya Bang Kartubi. Jika diingat, besar sekali jasa abang ojek ini. Dia pernah begitu berjasa mengantarkan saya untuk mencari lokasi tes SNMPTN (saat ini SBMPTN) dari Cilebut ke Cibinong. Bisa dibilang beliau salah satu orang yang berjasa dalam mengantarkan saya lulus tes SNMPTN karena kala itu selain mengantarkan ke tempat tes yang jauh, sempat meminjamkan uang juga pada saya lantaran saya harus menunggu lama di tempat tes. Kurang baik apa coba? Selama kuliah pun, kalau saya hendak balik ke kosan dari rumah, dia yang mengantarkan sampai stasiun. Hingga saya bekerja selama setahun ini dan sebelum ada ojek online, saya masih minta dijemput olehnya kalau malam-malam tak ada ojek pangkalan. Besar, sangat besar kiprahnya bagi mobilitas saya selama ini.

- Di sisi yang lain, saya juga butuh transportasi yang murah. Sebagai pekerja dan sama-sama pekerja, sudah fitrahnya kalau saya memang tertarik pada jenis transportasi yang menawarkan tarif murah. Itu yang akhirnya membuat saya sudah beberapa bulan ini tak menggunakan jasa ojek rumahan lagi. Ketika saya dengar Bank Kartubi gabung menjadi driver Uber, betapa senangnya saya! Paling tidak saat ini beliau bisa mencari pelanggan yang lebih banyak!

Oke, itu tadi curhatan dilema saya yang pertama! Sekarang mari kita lihat dilema KEDUA yang saya rasakan dilihat dari sisi supir angkot.

Sebenarnya bukan kapasitas saya mengomentari hal ini. Selain takut dibilang sotoy karena memang saat kejadian bentrok, saya juga tidak ada di lokasi. Apalah artinya pendapat perempuan yang dari pagi hingga malamnya dihabiskan di Jakarta. Sekarang malah mau komentar soal demo dan mogok angkot di Bogor! Nggak usah aneh-aneh deh, Ems.

Tapi, mulut saya gatal ingin berkomentar. Saya tahu angkot di Bogor memang sangat banyak jumlahnya. Tapi entah mengapa selama ini saya tak pernah merasa begitu terganggu dengan keberadaan mereka. Pikiran saya sederhana saja: supir angkot itu sebuah profesi yang memiliki nilai ekonomi.

Kenapa angkot di Bogor banyak? Karena banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menjadi supir angkot. Untuk apa? Jelas demi bisa bertahan hidup, untuk biaya menikah, memberi makan keluarga, dan menyekolahkan anaknya. Semua hasil dari narik angkot.

Jadi, ketika para supir merasa jumlah penumpangnya turun drastis dan untuk duit setor pun kurang, jelas mereka resah. Siapa sih yang nggak ketar-ketir melihat naik dari ujung pangkalan ke ujung pangkalan hanya dapat 2-5 penumpang? Itunglah jarak terjauh naik angkot dari Bojonggede ke Pasar Anyar Rp 8.000, dikali 5 penumpang, baru dapat 40ribu. Tapi kan nggak semua penumpang turun jauh. Bagaimana kalau kelima penumpang itu turunnya dekat dan hanya membayar Rp 3 ribu? Rasanya hanya bisa nutupin biasa bensin doang.

Membayangkannya jujur saja membuat saya sedih. Saya berpikir bagaimana kalau yang menarik angkot itu bapak saya? Berapa uang yang harus dia bawa ke rumah? Cukupkah untuk membeli beras, lauk, dan ongkos ketiga anaknya yang masih sekolah?

Berbagai Pihak Harus Duduk Bersama Mencari Solusi
Jujur saja saya tak mengikuti perkembangan mogok angkot ini di media massa, bukan karena saya tak mau tahu. Tapi kesibukan tulisan di kantor benar-benar menyita waktu akhir-akhir ini. Dengan segala kesotoyan yang ada pada benak saya, duduk bersama dan mencari solusi yang tak memberatkan kedua pihak harus segara dilakukan. Bukan hanya bagi persatuan angkutan umum dengan pemerintah, tapi juga penyedia jasa ojek online.

Di sini, saya pikir Bima Arya sebagai Walikota Bogor dan Dinas Perhubungan Kota Bogor menjadi tumpuan bagaimana solusi yang baik bagi semua pihak. Pemda Kabupaten Bogor pun harus ikut berunding bersama. Pemerintah daerah sebagai pelayan rakyat harus  bisa menjadi penengah yang solutif. Sebab tak bijak juga jika menghilangkan keberadaan ojek online, tapi bukan berarti angkotan umum mati perlahan.

Entah apa itu kebijakannya, saya tak tahu, persis seperti judul postingan ini: …. dan Postingan Blog Saya yang Tidak Solutif.

Kalau ada yang berkata, “supir angkot atau ojek pangkalan harus bisa terima kemajuan teknologi saat ini. Kalau nggak bisa menyesuaikan, ya begini jadinya” buat saya itu kurang elok. Buktinya, saat ini sudah banyak kok mereka yang tadinya tak mengerti gadget, tapi dengan kemauan yang keras ingin mengubah nasibnya, beralih ke ojek online.

TAPI….

Bukan berarti mereka yang masih memilih menjadi supir angkot atau ojek pangkalan tak ingin nasibnya berubah dan pasrah pada sepinya penumpang. Saya rasa banyak faktor mendasar mengapa mereka tetap bertahan. Percayalah, tidak semua rakyat mengenah ke bawah selalu punya pilihan seperti yang kalian ucapkan. Justru di sinilah pemerintah, penyedia jasa ojek online, dan persatuan angkutan umum duduk bersama untuk memecahkan solusinya demi bisa makan dan bertahan hidup.

Maka ketika ada pengguna Facebook dan Instagram mengatakan, “Asyik ya Bogor tanpa angkot. Lengang, nggak macet, nggak ada yang ngetem sembarangan lagi” saya kok miris ya bacanya. Sebab, secara tidak langsung komentar menghendaki ketidakberadaan mereka.

Lalu dari mana mereka akan makan kalau tak “menyibukkan” jalanan?

*Postingan ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Saya pun tidak lebih baik ketika menuliskan ini sebab di sisi lain saya pengguna ojek online. Hanya saja saya tengah memposisikan diri sebagai anak dari seorang sopir angkot yang menunggu Bapak saya pulang membawa uang untuk membayar biaya sekolah besok kalau tidak, akan dilarang ujian di dalam kelas.

Terima kasih!

(Sumber foto: http://bogor.tribunnews.com/2017/03/20/pemkot-bogor-masih-telusuri-penyebab-kisruh-sopir-angkot-dengan-ojek-online)

Related Articles

2 komentar:

  1. Ada yg typo mba...

    lebih enak enggak ada angkot jalan enggak macet. _@myifn

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak yang typo mah, nulisnya udah malem soalnya.

      yah tapi kasian dong kalo angkot ditiadakan, mau makan apa keluarga supir angkot, ser.

      Delete