In Cerita

Tanpa Gengsi pun, (Kebutuhan) Hidup Sudah Sangat Mahal


Beberapa kalimat bijak sering saya temukan di media sosial, baik yang dibuat oleh akun personal atau akun yang jualan jasa dan konten. Kata mereka, “Hidup itu sebenarnya murah. Gengsilah yang membuatnya mahal”.

Tak ada yang salah dari kalimat itu sebenarnya. Hanya saja tidak semua orang merasa kalimat itu mewakili nasib hidup mereka. Termasuk ketika kalimat itu merujuk pada hidup yang dijalani saya selama ini.

Bagi saya, tanpa gengsi sekalipun, kebutuhan hidup sudah sangat mahal dari tahun ke tahun.

Kurang lebih setahun lebih belakangan ini saya baru merasakan betul-betul yang namanya bekerja untuk menghidupi kebutuhan keluarga. Mulai dari bayar kosan adik di kampus, uang jajan dia selama sebulan, belum lagi uang buku dan penelitian. Pun dengan adik yang bontot, yang sering suka sedih karena belum bisa memberi uang jajan yang cukup untuknya di pesantren. Bagian ini menjadi scene paling menyedihkan dalam hidup saat  ini: tak bisa memenuhi semua kebutuhan adik yang sedang menuntut ilmu.

Kebutuhan itu belum di luar kebutuhan saya sehari-hari seperti ongkos kerja, jajan, pulsa, data internet, dan lainnya. Belum biaya di luar dugaan seperti sepatu yang rusak, dsb.

Cukup dengan gaji bulanan?

Mmm bisa nggak cukup tapi dicukup-cukupin. Kadang malah habis sebelum gaji bulan depan datang. Seperti bulan April ini yang pengeluaran banyak banget. Gaji sama kantor dikirim sekitar tanggal 27 Maret, awal april, sekitar tanggal 4 udah tinggal Rp 8ribu di ATM. Kan gila!

Ya tapi… begitulah kebutuhan. Kadang bisa diatur dengan baik, kadang di luar kendali.

Karenanya, sejak awal, tepatnya sejak saya mulai sadar kalau saat ini keluarga bergantung dengan gaji yang saya hasilkan setiap bulannya, saya sedikit (atau banyaknya ya? Saya nggak tahu) menjadi matrerealistis. Jujur saja, orientasi saya sebentar-bentar uang dan uang.

Itu terlihat dari cara saya nyari uang tambahan di luar kerjaan, salah satunya dengan cara menjadi blogger. Beberapa acara yang masuk di grup wasap blogger, ada yang menawarkan acara yang dibayar dan tidak. Saya tentu saja tertarik dengan acara di mana saya dibayar.

“Lu, Ma, apa-apa duit. Udah kerja, masih aja cari gratisan,” begitu kata seorang teman laki-laki berkata pada saya ketika kami bersua.

Saya tak marah dibilang seperti itu. Dan saya juga mengerti dia sedang tidak menghujat saya. Hanya saja, buat saya setiap orang selalu punya alasan mengapa mereka begitu getol meraih sesuatu. Apalagi ini perkara uang. Siapa yang tak tertarik?

Pun dengan saya yang memiliki alasan sendiri mengapa semangat mengikuti acara blogger yang berbayar. Jujur, ekonomi menjadi faktor utamanya. Jadi, saya hanya berpikir hidup kami berbeda nasib. Barangkali hidup yang dijalaninya saat ini tak membuatnya harus giat mencari uang. Dan itu sah-sah saja.

Tak hanya bulan April ini saja saya merasa sangat bingung mencari tambahan uang sampai bulan depan. Bulan-bulan sebelumnya pun begitu. Kadang, jika sudah sesak, terlintas, “ah mengapa saya tak menikah saja dengan lelaki kaya. Bukan, bukan kaya, tapi setidaknya dia bisa memberi saya kehidupan cukup, di mana adik-adik saya bisa sekolah dengan tenang, dan orang rumah bisa makan bergizi setiap harinya”.

Lalu,  saya urungkan niat itu meski hanya menari-nari di otak, sepintas pula.

Saya melihat perempuan-perempuan di sekitar saya, baik yang seumuran, di bawah saya, dan senior yang beda beberapa tahun dengan saya yang hidupnya terlihat menyedihkan setelah mereka berumah tangga. Mereka menikah, punya anak, istrinya di rumah, suaminya pun tak jelas kerjanya.

Saya tak menyalahkan kesucian menikah. Tapi saya menjadi sedikit parno melihat pernikahan yang seharusnya membawa rejeki dan banyak pahala justru memerosokkan kita ke dalam jurang kesulitan hidup dan berujung pada kehancuran.

Bukan, bukan saya tak mau menikah. Hanya… saya belum memiliki alasan kuat kenapa harus menikah saat ini. Atau mungkin karena belum bertemu dengan mas-mas yang memberikan alasan kenapa saya harus segera menikah dengannya atau dengan jodoh kelak.

Jadi, intinya postingan lu ini ngomongin tentang jodoh, Ma?

Mmm… nggak juga sih.

Saya cuma bilang kalau hidup yang saya jalani ini tak mudah. Sebagai anak pertama dengan dua adik yang masih sekolah dan kedua orangtua yang tak punya penghasilan tetap, saya tengah mengingatkan diri agar terus giat bekerja dan mencari uang melalui tulisan ini. Saya ingin berbagi, pada diri saya yang lain sebagai pembaca bahwa, “kamu harus survive, Ma!”.

Saya menulis untuk saya baca di waktu yang lain dan menjadi self reminder bahwa tanpa gengsi, (kebutuhan) hidup sudah sangat mahal.

Note: Curhatan ini sebenarnya udah pengen ditulis dari awal bulan, cuma karena waktu itu keadaannya masih baper banget lihat uang di ATM tinggal Rp 8rb, dikhawatirkan tulisannya bakal ngablu ke mana-mana dan nulisnya pasti sambil misuh-misuh, nangis, terus ingusan. Cuma bakal bikin sakit kepala dan ngotorin keyboard laptop.

JADI… tipsnya, kalau kamu lagi galau banget, sebaiknya curhatnya nunggu kalau hati udah tenang. Tips ini saya temukan ketika dulu pas patah hati karena diputusin pacar, milih buat nggak cerita secara KOMPREHENSIF ke temen karena hal itu cuma bakal bikin sakit bertubi-tubi di ulu hati. HAHAHAHA, jadinya curhat receh begini sih, Ma? Yah, namanya juga hidup. Receh juga uang.

*sumber foto di sini

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments