In Cerita

Karena Bersyukur Adalah Kunci




Pasca gagal nonton konser CNBlue 2017 di ICE BSD, banyak yang saya pikirkan. Apa yang salah? Apa yang kurang? Apa yang harus saya perbaiki? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulir, silih berganti, ke kanan dan kiri.

Kenapa saya harus kecewa? Atau justru wajarkah bila saya kecewa? Apakah begini kehidupan orang dari tahun ke tahun, semakin banyak rintangan, semakin berat untuk memenuhi kebutuhan. Atau, jangan-jangan semua hanya karena hilangnya rasa syukur kita sebagai manusia?


Menjelang saya diwisuda sampai detik ini, setidaknya ada 3 orang yang menyampaikan perihal rasa bersyukur akan hidup yang sedang kita jalani kepada saya di waktu dan tempat berbeda. Padahal saat itu, saya tak lagi cuhat tentang hal itu.


Pertama, saat fakultas saya mengadakan perpisahan pelepasan mahasiswanya menuju gerbang wisuda, Mei 2017 lalu. Adalah Pak Ahmad Thib Raya, Dekan FITK, yang mengatakan bahwa “janganlah kalian merasa iri pada kenikmatan orang lain. Pandanglah ke bawah. Mudahkanlah tangan untuk membantu orang lain, maka rahmat Tuhan akan turun”. Saking merasa mengenanya kalimat itu, saya sampai mencatatnya di notes hp.


Dari ucapan itu, Pak Thib ingin menyampaikan apa yang kita lihat di dunia luar sebagai orang yang sudah bergelar sarjana, jangan dipenuhi rasa buta pada rejeki yang diterima orang lain. Jangan iri tapi syukuri. Lalu berbuat baiklah, bertakwa, bekerja sungguh-sungguh, dan bergau dengan orang lain di luar dengan baik.


Kedua, peringatan agar saya harus lebih banyak bersyukur datang dari mulut seorang ustad, guru mengaji saya bertahun-tahun saat masih sekolah dulu. Namanya Ust Muhammad Sudrajat. Kami memanggilanya Ust. Ajat.


Saat saya sowan ke rumahnya bersama adiknya, hendak menunaikan zakat fitrah sekaligus silahturahmi dan mengucapkan rasa terima kasih sebagai murid ke guru bahwa saya telah menyelesaikan kuliah dan baru saja diwisuda, tiba-tiba saja beliau mengatakan, “syukuri saja yang ada di depan kita saat ini.”


Padahal saat itu, kami hanya membicarakan bahwa saya sudah diwisuda dan masih tetap bekerja seperti biasa. Tidak lebih dan kurang. Tapi ketika dia menyampaikan itu, saya merasa itu disampaikan untuk saya, bukan untuk saya dan adik. Benar-benar kalimat itu, dari matanya, terlihat ditunjukan untuk saya.

Ketiga, salah satu teman kantor yang udah lama banget kenal. Namanya Miftahul Jannah aka Key. Suatu hari saya terlibat percakapan di dalam toilet alias curhat dadakan. Saat itu dia bilang kalau kinerja saya akhir-akhir (menjelang sidang sampai menuju revisi setela sidang) saat under rated di kantor. Bukan lagi enggak maksimal, tapi sangat tidak maksimal. Tapi di saat yang bersamaan saya ingin pindah. Di situlah Key bilang kalau saya hanya perlu bersyukur pada apa yang saya jalani dan dapatkan sampai detik itu.


Belum lama ini, Key juga bilang pada orang-orang di kantor kalau enggak ada orang miskin di dunia ini. Yang ada hanyalah orang kaya dan orang berkecukupan. Kalau hidup dipenuhi rasa syukur, maka enggak bakalan ngerasa miskin secara harta. Yang ada ya mensyukuri hidup itu sendiri. Berusaha semampu kita sambil diiringi ibadah kepada Tuhan. Maka, apapun hasilnya dalam hidup, kamu akan selalu bersyukur.


Kata-kata Key itu emang enggak ditujukan pada saya. Barangkali itu malah jadi self reminder-nya. Tapi semua orang memang perlu pemahaman tentang ilmu hidup yang satu ini agar tidak gusar. Agar tetap bisa bahagia meski banyak hal yang belum tercapai.


Itu juga yang coba terus saya munculkan. Saat di kereta, hendak pergi atau pulang kantor. Ketika berjalan sendirian maupun di tengah keramaian.


“Saya harus bersyukur. Iya, bersyukur pada kehidupan saat ini. Detik ini dan hari besok yang penuh tantangan.”


Allah pasti punya maksud kenapa saya enggak bisa nonton konser CNBlue atau ikut liburan ke Merbabu. Dua di antaranya sudah terjawab. Pertama, 4 hari lalu Bapak masuk rumah sakit. Harus dirawat inap. Tengah malam itu jadi pengalaman pertama kali dan berharga buat kami sekeluarga, terutama saya. Kondisinya, perut dan pinggang Bapak kesakitan. Hebat, sangat hebat rasanya. Kami bawa ke rumah sakit di daerah Cilendek dengan bantuan saudara yang punya ambulans di wilayahnya.


(Bersambung)


*Ini dilanjut nanti ya soalnya besok Senin dan seharian tadi keluar jadi enggak kuat begadang kayaknya, hahaha. Intinya, saya hanya perlu bersyukur maka semuanya akan baik-baik saja, termasuk masalah baru yang timbul ini: perasaan! Hahaha.


Oh iya, satu lagi. Ingatlah Allah, karena kalau kamu sedang merindukan seseorang, sesungguhnya Allah lebih rindu padamu. Begitu juga ketika kamu berharap pada seseorang, hanya Allah-lah tempatmu sebaik-baiknya berharap. Berharaplah pada-Nya. Mintalah pada-Nya. Karena Dia-lah kunci semua pintu keinginan. 

Kredit foto di sini

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Between Us Cerita CNBlue

Gagal Nonton Konser CNBlue 2017 dan Liburan yang Juga Tertunda



Mungkin ini malam minggu tersendu di tahun 2017 dan mungkin juga ini akan menjadi postingan sangat emosional di bulan Juli.

Bukan karena belum juga punya pacar atau sejenisnya, tapi karena enggak bisa nonton konser Between Us CNBlue 2017 di ICE BSD, Tangerang Selatan, kota yang teramat dekat untuk saya singgahi hanya dalam beberapa jam saja. Dan juga tak bisa menghibur diri dengan ikut travelling ke Merbabu. Sedih. Sedih banget.

Pertama, tentang CNBlue. Mereka adalah band Korea pertama yang saya suka. Lebih tepatnya karena saya naksir dengan gitarisnya dalam drama Gentleman Dignity. Namanya Lee Jong Hyun. Band mereka beranggotakan 4 orang. Jung Yong Hwa sebagai leader group, vokalis utama, gitaris, dan pianis juga. Dia juga yang paling tua di antara keempat anggota.

Kedua, ada Lee Jong Hyun. Laki-laki kelahiran Busan, Korea tahun 1990-an ini yang bikin saya suka dengan CNBlue. Secara fisik, dia memenuhi kriteria sebagai laki-laki cakep. Perawakannya tinggi dan parasnya yang ganteng. Imejnya pun menarik, enggak neko-neko, kalem cenderung jaim. Tapi bukan itu yang sepenuhnya saya suka, meski setiap lihat foto-fotonya di Instagram bikin meleleh sih, secuek apapun dia.

Yang paling bikin saya suka adalah suara dan kepribadiannya! Meski Yonghwa jadi vokalis utama band ini, tapi part Jonghyun nyanyi selalu saya tunggu. Kepribadian Jonghyun juga baik. Ibarat anak SMA, Jonghyun bukan anak yang bandel atau brandalan, meski bukan juga anak yang cupu. Dia punya kepribadian yang asik, sopan, dan tau betul tindakan apa yang akan membuat citranya jelek sehingga tidak dia lakukan. Rasa suka itu semakin lengkap karena gitaris, posisinya yang membuat saya sebagai perempuan mudah suka.

Oh iya, dua anggota lainnya ada Kang Minhyuk sebagai drummer dan Lee Jung Shin sebagai basist. Kedua cowok ini juga ganteng sama seperti deretan artis cowok Korea lainnya. Tapi, setiap kali saya naksir artis Korea entah habis nonton drama atau suka aksi panggungnya, pada akhirnya hanya ke Jonghyun-lah saya kembali. Hahaha.

Kedua, liburan yang tertunda. Salah seorang teman saya di kampus mengajak saya naik gunung ke Merbabu. Awalnya saya tertarik dan sampai malam ini pun masih sangat-sangat tertarik karena udah lama banget enggak naik gunung dan ingin liburan juga. Tapi sayang, meski biaya untuk liburannya hanya sekitar 1/4 dari harga tiket konser, saya enggak bisa ikut. Sesuatu yang juga cukup bikin nyesek karena harusnya saya bisa jalan-jalan karena selama saya bekerja dari 2015, enggak pernah sekalipun liburan bareng, jauh, dan lepas sementara dari kerjaan.

Berusaha Realistis
Sejak tau bahwa saya enggak bisa nonton konser CNBlue dan ke Merbabu, saya terus mencari alasan untuk bisa memaklumi kenyataan ini. Satu-satunya alasan yang bisa menguatkan itu semua adalah 2 adik saya, Puput dan Ojan. Seperti yang sudah saya jelaskan di kepsyen Instagram beberapa waktu lalu kalau saya enggak bisa nonton Konser Between Us CNBlue 2017 karena momen datangnya CNBlue bertepatan dengan daftar ulang dan bayaran semesteran mereka. Begitu pun ketika saya mencoba menghibur diri dari gagal nonton konser lantas ikut teman-teman kampus ke Merbabu. Sayang seribu sayang.

Bahwa saya yang akhirnya menanggung semua bayaran sekolah mereka, itu enggak masalah sama sekali. Seperti yang juga pernah saya katakan di postingan blog sebelumnya kalau saya sama sekali tidak keberatan jika hampir semua uang gaji dipakai untuk kebutuhan sekolah dan makan keluarga.

Tapi ini bertepatan dengan jadwal konser mereka datang. 

Bagian paling nyesek bukan karena ada beberapa yang berkata “ah, katanya suka CNBlue, masa enggak nonton konsernya sih”. Itu enggak akan jadi masalah apalagi kalau saya masih berstatus kuliah dan enggak punya uang sama sekali. Tapi ini karena saya sudah bekerja, mendapatkan gaji, THR pun full, sementara tidak bisa banyak yang bisa saya  lakukan untuk bisa melihat mereka secara langsung atau pun ikut menyegarkan otak ke Merbabu dari rutinitas bekerja.

Mau cerita ke keluarga enggak mungkin karena adik saya yang perempuan anti banget sama Korea, bahkan ketika saya putar lagu-lagu Korea, dia enggak suka.  Padahal saya bayarin uang semesterannya dari uang yang tadinya mau saya belikan tiket konser, hahaha.

Mau cerita ke Umi atau Bapak apalagi. Ketika saya bilang mau ke Merbabu saja, ekspresi Umi seperti mikir keras. Saya katakan rencana ini setelah beberapa hari Lebaran. Umi menjawab terserah saja asal ada uangnya. Umi tau saya punya uang sebab masih ada honor menulis saya di opini belum turun, tapi Umi pun berpikir jauh kalau uang itu kemungkinan akan dipakai untuk kebutuhan sekolah di tahun ajaran baru ini.

Honestly, when I saw the first that her expressions, I was cried tapi diam-diam di kamar.

Dua alasan itu saling tarik menarik persis seperti magnet beda kutub. Kadang saya merasa sangat berhak menggunakan uang saya untuk beli tiket atau paling enggak liburan untuk membahagiakan diri sendiri. Kadang saya juga ingin meringankan beban orangtua sekuat tenaga saya.

Saya berusaha untuk enggak-enggak lagi jatuh pada pertanyaan kenapa Bapak tidak bisa berjualan seperti dulu lagi sehingga masih ada dana lain yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan di rumah. Saya benar-benar enggak mau jatuh dalam pertanyaan-pertanyaan itu yang jawabannya enggak bakal saya dapatkan selain: ini sudah takdirnya.

Salahkan saya? Kurang dewasakah saya? Saya berharap ada yang bisa memberikan masukan positif, mendukung bahwa yang saya lakukan ini benar. Bahwa kalau kamu ikhlas, Dia akan ganti semuanya dengan sesuatu yang tidak kamu duga.

Saya pernah ungkapkan ketidakjadipergian saya ke konser atau pun liburan kepada seseorang dan di saat yang bersamaan, responnya biasa saja. Kadang itu makin membuat saya merasa kalau menumpahkan kesedihan kepada orang lain dan berharapa akan diberi dukungan adalah perbuatan yang lebih dekat pada kesia-siaan. Dan akhirnya, saya lebih suka menumpahkannya di sini, tetap sambil enggak bisa menahan tangisan.

Cengeng ya? Iya biar cepet sadarnya kalau besok, besok, dan besoknya lagi saya harus tetap bekerja dan melajutkan apa yang harus dijalani. Semoga saya bisa semakin dekat dengan rasa syukur-Nya meski harus terlebih dahulu menulis curhatan penuh keluhan. 

Okey, in the end, i want to sleep and trying to clear this sad story tonight. Gnite, everyone!

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments