In Hai Ems!

“Hai, Ems!” Wadah Kecil yang Berusaha Tampil Apa Adanya

Dunia terus bergerak. Ada ruang di mana tadinya kita bisa melakukan hal semau kita, tapi enggak bisa karena pergerakan-pergerakan itu. Tapi bukankan perubahan itu sebuah keniscayaan? Karenanya, kita harus bisa membawa diri agar tak terbawa arus juga tak ketinggalan jaman. Setuju?

Di antara hingar-bingar dunia yang terus sibuk ini, saya merasa ada yang terenggut. Salah satunya di blog ini. Berubah ke arah yang lebih baik sebenarnya, tapi sama halnya seperti negara yang terus membangun infrastruktur, ada ruang-ruang yang berubah. Ada tempat-tempat di mana para pedagang yang biasa menjajakan produknya harus terusir Satpol PP dan pemandangan gunung yang aduhai bisa dilihat dari stasiun jadi tertutup karena jembatan layang.

Blog saya, yang dibangun dengan sebuah cerita tentang anak SMA yang barus saja pulang dari tes PTN dan bertemu mantan gebetannya (2010), kini tumbuh menjadi blog yang berisi ulasan produk-produk dan content placement.

Apakah itu buruk? Tidak. Karena dari sana saya mendapatkan pengalaman dan bisa mendapatkan uang tambahan juga.

Keuntungan itu bukan tanpa konsekuensi. Ada ruang yang tergusur. Ruang di mana ekspresimu biasa tercurahkan di situ. Ruang di mana kini kamu terlalu malu untuk menceritakan apa yang membuatmu lega. Ruang di mana pernah menjadi terapimu saat kehidupan ini begitu sulitnya ditaklukan. Ruang itu, ruang yang menampilkanmu apa adanya. Ruang tanpa rumus seo, apalagi judul yang mengundang klik. Ruang yang bisa membuatmu menangis saat memulai kalimat pertama dan menjadi dewasa ketika membubuhkan titik di paragraf terakhir. Ruang yang saya rindukan kini.

Tapi, saya juga butuh uang.

Lantas tergadaikah kenyamanan saya selama ini di blog sendiri?

Tiba-tiba saya ingat salah satu users dari sebuah koran khusus ekonomi di Jakarta yang pernah mewawancarai saya. Dia bilang, “kamu lulusan sastra? Suka ngeblog juga? Tapi di media ini, idealismemu dalam menulis selama ini bisa tergadai lho. Karena kita industri, ada banyak yang harus kamu tulis tapi tidak sesuai hatimu,” katanya.

“Akan selalu ada cara di mana kita bisa menulis pemikiran kita tanpa harus takut tidak ada wadahnya. Jika saya terpilih di koran ini, saya akan menulis sesuai denga aturan yang berlaku di sini, sesuatu yang memang harus saya kerjakan. Tapi, saat ini, banyak sekali wadah yang bisa menampung pemikiran kita, blog misalnya. Atau kalau tidak mau repot urus blog sendiri, kita bisa menulis berbagai pemikiran atau sekadar cerita di Kompasiana. Jadi saya enggak khawatir enggak ada tempat untuk menulis apa yang saya ingin tulis,” kata saya dengan diakhiri senyuman.

Biarlah, Hai, Ems! hadir dengan segala ceritanya tanpa ada brief dari siapapun sebab menulis untuk kebebasan adalah sebaik-baiknya kemerdekaan. Uhuk!

Tak ada yang salah dengan ucapan salah satu users sore itu. Hal ini justru mengingkatkan saya bahwa saya punya blog pribadi, meski kini cukup dipenuhi artikel review produk. Di satu sisi, berkecimpung di dunia blogger—yang baru saya jalani belum sampai setahun—membawa untung secara materi bagi dompet saya, pengalaman, dan ilmu, tapi di sisi lain, saya juga ingin ruang kebebasan saya tetap ada.

Karenanya, dengan template yang baru saja diganti minggu lalu dan beberapa rubrik yang juga anyar, saya membuat satu rubrik baru. Sebenarnya ini rubrik lama, hanya berganti nama saja.
Rubrik yang saya sebut sebagai terapi ketika sedih ini, saya namai “Hai, Ems!”.
Kenapa begitu? Karena saya enggak punya nama lain lagi yang kreatif. Ternyata susah sekali menciptakan satu rubrik khas ya! Mikirnya sampai sehari lho itu.

Harapan saya, Hai, Ems! Ini bisa menjadi satu komunikasi yang baik untuk pembaca blog saya, bahwa di balik sapaan Hai, Ems! yang kerap dilakukan teman-teman saya atau kamu, pembaca setia blog saya, selalu ada kabar terbaru. Entah itu kabar tentang kebahagiaan, kesedihan, atau hal-hal sehari-hari.

Tapi di luar itu semua, saya tidak ingin pembaca berharap lebih pada Hai, Ems! sebab dia adalah playground saya yang seharusnya tidak boleh direcoki siapapun, tanpa bermaksud menutup akses komentar kritik apalagi apresiasi. Sungguh saya pun senang jika ada yang memberi masukan, kritik atau apresiasi pada tulisan saya yang justru sejauh ini sangat jarang.  

Biarlah, Hai, Ems! hadir dengan segala ceritanya tanpa ada brief dari siapapun sebab menulis untuk kebebasan adalah sebaik-baiknya kemerdekaan. Uhuk!

Akhir kata, rubrik Hai, Ems! akan menyapa kalian dengan segudang keluh kesah, kebahagiaan, optimisme, atau pandangan tentang hidup dari seorang Ema Fitriyani.

Selamat membaca!

Related Articles

4 komentar:

  1. Aseeeekkk... Hi, ems pasti makin banyak rahasia yang tertulis setajam silet!

    ReplyDelete
  2. Ems... Keren euy rubrik barunya. Aku juga sebenarnya punya rubrik personal, namanya Larut Malam, tapi baru dua artikel langsung vakum wkwkwk...
    Ternyata nulis personal menurut aku lebih susah :(, karena aku juga gak mau orang lain tau kehidupan pribadi aku hahahaha *maaf curcol*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, susah banget nih. Rubrik curhatan juga enggak bisa dianggap enteng wkwkw, soalnya selalu perang di hari, mau di-post atau enggak ya.

      Delete