In Hai Ems! Mencatatnya

Wisuda Bareng Mantan, Baper Enggak Nih?

Alhamdulillah akhirnya wisuda juga! Bahagia banget rasanya bisa menyelesaikan kewajiban yang satu ini. Satu kata sih: plong. Menariknya, enggak cuma bersyukur bisa melewati fase yang menguras tenaga dan uang ini, tapi terselip momen yang bisa dibilang kayak sinetron—atau drama Korea: pakai toga bareng mantan!

Buat yang pernah baca blog ini dari jaman 2013, topik tentang mantan pernah berjaya. Terhitung lebih dari 20 artikel tentang mantan ditulis sejak akhir 2012 sampai sekarang. Cuma sejak tahun lalu, ada beberapa artikel tentang tema serupa yang akhirnya harus berakhir di draft blog dan belum bisa dipublikasikan karena satu dan lain hal. Ngerasa sekarang enggak related aja sama beberapa tulisan lainnya di blog.

Terus kenapa sekarang artikel ini diposting?

Jawabannya: karena kejadian ini kayak sinetron dan sudah kadung janji juga sama yang wisuda bareng itu!

Oke, karena saya enggak terlalu suka pakai kode atau inisial orang yang saya tulis di blog, sebut saja dia Ivan. Yaps, artikel ini sebenarnya tidak ditujukan untuk orang banyak. Ini lebih kepada karena saya udah terlanjur janji bakal nulis kejadian ini di blog soalnya si Ivan itu cukup rajin juga mampir ke sini, hahaha! Katanya sih begitu. Lumayan, setidaknya tulisan ini bisa jadi bahan bacaan buat dia di Lampung sambil jaga toko.

Sebenarnya saya bingung cerita dari mana. Berhubung saya tipikal orang yang suka keteraturan, jadi kita mulai dari kronologinya saja ya.

Sebagai mahasiswa akhir yang juga sudah kerja, skripsi ini ganjel banget. Enggak dikerjakan tapi ya kewajiban. Dikerjain, kadang sudah kecapekan dengan kerjaan di kantor. Sampai akhirnya, hari di mana tinggal satu tahap lagi buat wisuda, saya kerjakan dengan sungguh-sungguh di kampus.

“Pokoknya harus kelar urusan administrasi hari ini,” kata saya ngomong sendiri sambil jalan terburu-buru di kampus.

Hari itu hari kedua saya datang ke kampus dengan catatan itu tanggal di mana pendaftaran wisuda ke-104 terakhir ditutup. Mau enggak mau kebut terus. Waktu saya hanya tinggal tersisa 1 jam lagi sebelum Perpustakaan Utama (PU) bagian pengumpulan arsip skripsi dan bebas tunggakan tutup. Tapi saya masih terkendala mengurusi hardcover dan CD file yang belum juga selesai di Pesanggarahan.  

Bolak-balik antara kampus dan Pesanggarahan—tempat fotokopian sebelah kampus—pun tak terhindarkan. Saat lagi bolak-balik yang entah sudah putaran ke berapa itulah saya ketemu Ivan!

Dia yang pertama kali nyapa karena saya lagi sibuk lihat HP sambil jalan tergesa-gesa di sekitar parkiran Tarbiyah, fakultas saya.

“Woy,” kata Ivan menggangetkan.

Saat itu ya saya kaget tapi enggak lama terus nyengir. Kaget karena memang lagi buru-buru apalagi sebagai mahasiswa akhir, sangat susah ketemu orang yang kita kenal di kampus. Nyengir karena Ivan yang negor! Jarang-jarang momen ini terjadi setelah putus 2013 lalu.

Tapi kejadian itu berlangsung sangat cepat karena dia juga lagi ngejar waktu buat nyelesain administrasi di kampus.

Saya tahu Ivan memang belum lama ini sidang. Akun band-nya di kampus yang unggah foto vokalis mereka sudah sidang. Si akun band itu follow saya (waktu itu).

“Oh, nih anak udah sidang juga,” pikir saya waktu itu saat lihat unggahan mereka.

Yang tak terpikirkan oleh saya adalah dia akan wisuda bareng saya. Pasalnya, saya sudah sidang awal April, dia akhir April. Jaraknya terlalu dekat untuk bisa Wisuda Mei buat dia. Belum revisi dan segala macamnya.

Rupanya, hari itu Ivan juga sedang buru-buru. Dia juga tengah berpacu dengan jam kantor orang-orang PU dan Fakultas agar bisa menyelesaikan semua administrasi yang diperlukan.

Sampai di sini, saya masih belum baper. Karena waktu terus berjalan, langit Ciputat pun mendung. Saya lupa saat saya papasan dengannya, itu sebelum atau sesudah hujan. Yang pasti, langit mendung dan sebenarnya suasana kampus  cukup adem karena ada angin sepoy-sepoy gitu.

Senyum-senyum kecil mulai muncul saat saya mendatangi kantor administrasi di PU yang mengurusi arsip skripsi. Kondisinya saat itu sebenarnya enggak enak karena saya agak memaksa staf di sana untuk menyetujui penyerahan skripsi saya untuk arsip di sana hari itu juga. Saya butuh tandang tangan mereka sebagai syarat untuk daftar wisuda yang akan ditutup hari itu, sementara jam terus berjalan.

Saat mereka akhirnya menerima permohonan saya dengan sedikit kesal, ya salah saya juga sih terburu-buru, di situ saya menemukan momen manis. Manis sih karena menurut saya kok bisa sih kejadian.

Apa itu?

Saya menulis nama dan judul skripsi saya di buku daftar di ruang arsip PU tepat di bawah nama Ivan dan judul skripsnya yang didaftarkan beberapa menit sebelum saya datang—karena ada keterangan waktunya.

Entah kenapa momen seperti itu bikin saya senang. Saya berpikir hari ini saya dan Ivan sama-sama berjuang agar bisa wisuda Mei, tanpa direncanakan, tanpa ada omongan sama sekali kalau, “eh, ayooo kejar Mei!”.

Layakkah Dia Disebut Mantan Terindah?
Meski hanya sedikit, air mata saya mengalir di pipi saat berada sendirian di lift dosen Tarbiyah lantai 7. Saya gagal wisuda Mei! Begitu pikir saya setelah tahu pihak Perpus Tarbiyah (PT) enggak bisa menyetujui syarat pengumpulan arsip skripsi saya karena situs repository UIN Jakarta yang enggak bisa diakses.

Saya langsung lemas.

Mencoba menerima kenyataan dengan keluar dari PT yang pengap karena kondisinya saya sudah kelelahan, di luar juga hujan, dan muka lepek banget. Di situlah, saat sendiri di lift, saya menangis.
Setibanya saya di lantai bawah, saya kepikiran Ivan. Saya WA dia!

Nomornya tidak tersimpan di HP, jadi saya coba mengingat-ingat. Sial, saya masih saja hafal!
Saya chat nomor yang pernah saya kutuki beberapa tahun lalu karena saking susahnya otak saya melupakan nomor itu.

“Gue di Mandiri, ke sini aja,” katanya membalas.

Dengan perasaan yang enggak karuan, saya melangkahkan kaki ke Bank Mandiri, tempat yang juga pernah jadi saksi waktu Ivan pertama kalianya main gitar buat saya! Hahahahaha.

Sejauh mata memandang, saya sudah lihat Ivan dari depan Parkiran Tarbiyah. Saya melangkah lemas, masih dengan hati yang enggak karuan antara baru saja gagal daftar wisuda dan akan bertemu dia!

“Gue enggak keburu daftar wisuda,” kata saya membuka percakapan setelah sampai di Mandiri.

“Kenapa?”

Di sini saya lupa apakah saya menunjukan ekspresi muka habis nangis di depannya atau tidak. Saya juga lupa sempat merengek ke dia atau enggak. Yang pasti, dia membawa saya ke salah satu warnet terdekat di Pesanggarahan.

Dia buka akun AIS saya.

“Ini sih dikit lagi. Keburu!” serunya setelah melihat hanya satu tahap lagi yang belum saya dapatkan  verifikasinya, input ke repository yang situsnya sungguh menyebalkan karena enggak bisa diakses di saat genting.

“Sana ke fakultas, lobi lagi. Biar sini gue isiin data-datanya (seperti baju wisuda dan deretan pertanyaan survey kampus kepada mahasiswa yang mau lulus),” sergahnya.

Saya ke lantai 7 Tarbiyah lagi, bertemu pihak PT dan mempertanyakan apa begini kondisinya, seorang mahasiswa tidak bisa ikut wisuda hanya karena link repository-nya enggak bisa diakses? Saya coba bertahan sebagaih pihak korban, hehehe.

Dan ya, mereka luluh. Salah satu staf di sana meloloskan saya dengan hanya membuka akun saya di data mereka lalu menceklis nama saya! Hal yang sangat mudah dilakukan tapi harus terganjal ketidaksiapan situs repository yang susah diakses karena banyak calon wisudawati membukanya!

Dengan menyerahkan KTM saya sebagai jaminan di PT, saya menuju ke warnet. Menemui masa depan saya, Ivan, yang lagi mendaftarkan saya wisuda.

Dan saya pun terselamatkan. Semua data sudah terceklis. Hanya tinggal menunggu kampus menyetujui permohonan saya.

“Verifikasi bisa kapan aja, nanti malem kayaknya,” kata Ivan.

Setelah proses yang mendebarkan ini, saya lupa siapa yang duluan mengajak makan. Pokoknya, setelah urusan daftar di warnet itu kelar, kami melangkah ke salah satu tempat makan—masih di Pesanggarahan.

FYI, selama jadian dulu, saya dan Ivan enggak pernah jauh-jauh makan di Pesanggarahan. Selain karena kami sama-sama sibuk dengan UKM masing-masing, saat itu kami juga sama-sama miskin. Uang jajan dikasih seadanya dari orangtua, wkwk! Juga, karena pas masa-masa jadian, Ivan kena sial mulu. Laptop ilanglah, HP jatuh di jalanlah. Sampai akhirnya saya mikir emang enggak dikasih kesempatan untuk bisa happy-happy bareng dia, hahaha.

Tapi ternyata semesta punya cara lain, jauh lebih dari sekadar happy bareng, yakni mempertemukan kamu menuju wisuda Mei. Dan dia salah satu orang yang menolong saya di saat saya menyerah daftar wisuda!

“Inikah yang disebut sebagai mantan terindah?” tanya saya sambil tertawa padanya.

Dia memesan makanan. Perut saya tidak enak untuk makan nasi meski amat lapar. Kejadian seharian itu bikin perut mual, belum lagi di saat bersamaan diteror dua kerjaan by phone.

Lantas kami mengobrol banyak hal selama makan. Ada salah satu ucapannya yang tidak saya perkirakan sebelumnya dan cukup bikin kaget. Ini saya bahas di artikel terpisah saja ya, takut ceritanya kepanjangan!

Ivan lalu mengantar saya pulang ke Stasiun Pondok Ranji, setelah sebelumnya dia ke kosan dulu untuk taroh tas dan dokumennya. Oh di kosan itu, kami sempat ngecek AIS bareng-bareng. Dan kami sama-sama senang saat tahu kampus sudah memverifikasi data wisuda kami.

Jadi juga wisuda. Dan beruntungnya, hari wisuda kami sama, Minggu, 21 Mei 2017!

Hari H Wisuda, Baper Enggak Nih?
Hari wisuda datang juga! Selain haru karena akhirnya bisa memakai toga dan bikin orangtua bahagia, sejujurnya pagi itu saya juga ngantuk banget karena malamnya masih mengejar deadline kerjaan.

Saya tiba di pelataran kampus depan air mancur UIN Jakarta sedikit terlambat. Sudah banyak wisudawan-wisudawati yang cantik dan ganteng berdiri di sana. Saya masuk ke barisan fakultas yang ternyata sebelahan dengan fakultas Ivan.

Dua hal yang saya janjikan pada Ivan saat kami sama-sama urus wisuda bareng kemarin: menulis cerita ini di blog dan menyempatkan untuk foto bareng berdua saat wisuda!

Menyadari bahwa ini mungkin saja momen terakhir antara saya dan Ivan di Ciputat, saya mencari dia, dia pun mencoba menengok ke depan arah saya berdiri. Dengan sedikit main kucing-kucingan dengan petugas pengatur wisuda, yang sepertinya anak Pramuka atau Menwa, saya ke arah Ivan berdiri. Akhirnya kami foto bersama.

Kami masuk ke auditorium, saya menyaksikan Ivan maju ke depan podium. Sempat saya abadikan juga momennya. Wisuda selesai, peserta bubar, dan saya bertemu dengan dia, ibu, dan adik perempuannya tidak sengaja sebelum pintu keluar.

Sampai di titik ini, saya akui diri saya baper. Bukan tentang saya yang dulu kecewa ditinggal sepihak, tapi bahwa akhirnya kami melewati kesulitan ini dengan sukses bertoga bersama. Saya dengan perjuangan hidup antara bekerja dan menyelesaikan skripsi, dia pun mungkin juga begitu. Dan hari itu kami merayakannya, yang juga menjadi awal bagi kami melangkah, menghadapi hidup yang mungkin lebih berat lagi di depan.

Momen yang tak direncanakan ini juga jadi semacam penutup cerita kami di Ciputat. Kami pernah melewati masa merindu dan itu terbalaskan. Kami pernah menikmati tawa bersama pada malamnya Ciputat, suasana yang canggung di depan wall climbing Arkadia, dan sekitar SC. Kami juga pernah begitu kakunya berpapasan di tangga SC setelah putus. Dan sekarang ditutup dengan wisuda bareng.

Menurut saya serangkaian kejadian ini epic banget! Meski setelah itu Ivan foto bareng dengan pacarnya di SC, hahaha. Tapi saya melihat Ivan yang lain. Bukan lagi Ivan yang ingin saya kutuki seperti beberapa tahun lalu, tapi manusia yang penuh kecewa di masa lalu, dewasa di kemudian hari.

Ini bukan lagi soal apakah kamu masih belum move on atau tidak, tapi ada banyak hal yang kadang terlalu buruk yang kita yakini hanya karena satu-dua celah. Padahal, sisanya mungkin saja proses menuju kebaikan. Dan waktu telah membuktikannya.

Selamat atas wisuda kita, Van!

Related Articles

4 komentar:

  1. selamat yaaaa mun, sebagai salah satu orang yang menyaksikan kalian pacaran di tangga SC, gue terharu hahahahaha.

    ReplyDelete
  2. Sukaaa. Sukaaaaaa. Tulisannya cakep. :D
    Aku jarang loh baca tulisan panjang yang nggak ada gambarnya tanpa skip-skip, tapi aku betulan baca sampai tulisan ini. :D

    ReplyDelete
  3. Dinantikan artikel berikutnya, Emssss
    Nikahan Bareng Mantan: Ups, Baper Deh :")

    ReplyDelete