In

Bali

Ini kali kedua aku ke Bali. Yang pertama, saat kantor tempatku bekerja melakukan vekesyen selama tiga hari, sekitar satu bulan lalu.

Sudah seminggu ini aku berada di Pulau Dewata. Menghadiri acara bergengsi kelas dunia, IMF-WB 2018 di Nusa Dua. 

Banyaknya agenda yang mesti diliput membuatku tidak sempat berfoto untuk sekadar mengabadikan diriku pernah menjadi bagian IMF-WB 2018. Tak apa. Di tempat liputan lain, di kota-kota yang aku singgahi  juga jarang menghasilkan foto-foto mukaku sendiri, kecuali saat ada foto bersama. 

Kesibukan di sini juga membuatku lupa membalas chat yang masuk jika bukan soal pekerjaan. Juga mengangkat telpon ibuku. 

Tapi malam kemarin, saat aku melangkahkah kaki dengan Gojek ke Kuta, aku terdiam. Setelah selesai menulis berita terakhirku di atas motor, aku termenung. Pikiranku jauh mengingat Bali yang kerap kamu ceritakan.

Denpasar yang amat ramai. Kuta yang macet. Target penjualan yang harus dikejar. Teman-teman yang minta ditraktir Chatime. 

Begitu kan katamu?

Bali yang jauh kala itu, membuatku berpikir apa bisa ke sana. Mahasiswa kere sepertiku yang tak pintar menabung, mana bisa beli tiket untuk menyusul. 

Tapi sekarang aku di Bali. Sudah sepekan. Sudah kedua kali dan mungkin akan berkali-kali lagi ke sini tanpa harus pusing beli tiket karena ditanggung pengundang acara. 

Tapi kamu sudah tidak ada. 

Kamu ada di sini saat aku tidak mampu berlari. Aku berdiam di sini di saat kamu tak lagi sanggup berjalan.

Malam tadi, di keramaian Kuta, aku mencari nama toko internasional itu. Tapi tidak kutemukan. Pada kunjungan pertama kali ke sini, bulan lalu saat mengelilingi pantai Kuta, aku juga mencari nama toko itu. Sekelebat aku melihat. Tapi aku tidak tahu toko yang mana yang pernah kamu singgahi selama bertahun-tahun.

Sepanjang perjalanan pulang dari Kuta ke tempatku menginap di Nusa Dua, aku berpikir. Mengapa kesempatan itu tidak ada? Mengapa saat aku masih menjadi mahasiswa waktu itu, tidak bisa ke sini? Atau mengapa di saat aku di sini, kamu sudah tidak lagi ada?

Diam-diam kadang aku menanti ada tugas liputan ke tempat kelahiranmu. Tempatmu sekarang melanjutkan hidup. Pernah ada satu undangan dari salah satu kementerian untuk meliput ke sana. Sayang bukan aku yang disuruh. Aku malah diminta ke tempat-tempat yang lebih jauh dari itu. 

Temanku yang dikirim meliput ke sana bercerita mereka datang ke pabrik pembuatan kereta dalam negeri milik pemerintah. 

Ah... perusahaan itu pernah kita bicarakan beberapa tahun lalu lewat telpon. Pernah juga terselip di antara ratusan email kita.

Tapi kata temanku jadwal liputan di sana hanya dua hari dengan agenda yang amat padat dan melelahkan mengikuti kemauan sang menteri. Kupikir, mungkin aku memang tidak ditakdirkan ke sana. Kalaupun bisa, belum tentu bertemu kamu.

Kembali ke Bali. Di atas Gojek, aku membayangkan apa yang akan terjadi jika kita bertemu? Aku menghampiri toko asal Inggris itu atau kamu yang ke datang kepadaku usai kerja yang melelahkan? Atau malah kita bertemu di persimpangan jalan.

Pertemuan itu... mungkin terasa kaku. Saling berjabat tangan. Memperkenalkan diri. Tersenyum kikuk. Bertanya bagaimana kabar masing-masing.

Setelah setangah jam, bahkan satu jam seperti kanebo kering, mungkin air laut yang membahasahi kaki-kaki kita bisa mencairkan suasana. Sama-sama melihat ujung laut yang jauh dan gelap. Angin-angin yang menyentuh pipi dan rambut. 

Jujur saja, jika itu terjadi, aku tidak tahu apa yang akan kita bahas. Apakah kamu akan irit bicara seperti di email dan chat? Ataukah akan ramai seperti saat menelpon.

Yang pasti, jika saat ini kita bertemu di satu pantai, umurku sudah 25 tahun 7 bulan dan bulan depan kamu ulang tahun. Itu artinya, tahun depan kita sama-sama 26 tahun. 

Ya, 26 tahun. 

Batas waktu itu... yang mungkin akan jadi permulaan atau malah akhir dari hubungan bertahun-tahun yang tak kasat mata.

Bandara Ngurah Rai, 
14 Oktober 2018, 

19:23 WITA,

sambil menunggu terbang ke Jakarta.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In kumparan migas

Serunya Jadi Wartawan Sektor Energi


Halo, semua!


Setelah lama enggak nulis di blog karena kesibukan di tempat kerja yang baru, akhirya saya nyempatin juga buat nulis sore hari ini. Mumpung lagi ngetik berita di kantor dengan pemandangan kolam renang dan taman yang nyaman, saya mau mau nulis tentang pengalaman menjadi wartawan baru di sektor energi seperti minyak, gas, dan listrik. 

Ya, tepat bulan ini saya sudah enam bulan menjadi wartawan di kumparan, media online yang baru setahun berdiri tapi sudah banyak dibicarakan orang. Di sini, saya mendapatkan posisi sebagai wartawan ekonomi. Sementara fokus isu yang diliput adalah sektor energi. 

Hmm... sebenarnya di media online dengan hanya 7 awak di desk ekonomi, tidak ada penempatan sektor mana yang secara khusus harus digeluti. Entah kenapa, saya yang baru jadi wartawan kemarin sore malah ditempatkan di sektor yang bikin kepala berasap selagi liputan, begitupun saat menggarap berita. Alasannya, karena sektor energi sangat rumit dan begitu teknis. 

Gedung Kementerian ESDM di malam hari, saat semua wartawan udah pulang dan saya masih nulis. Press room-nya ada di gedung sebelah pojok kiri :)
Mungkin karena saat interview dengan users di kumparan, salah satu dari mereka menanyakan apa berita yang saya ikuti selama ini. Lalu saya menjawab proses divestasi saham Freeport ke Indonesia dan kisruh antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu, yang membuat kantor akhirnya memilih saya untuk banyak meliput di sektor energi dan BUMN. Ya... meskipun, seperti yang saya bilang tadi, di sini tidak ada sektor yang dikhususkan bagi satu wartawan. Semua isu lintas sektor sangat mungkin digarap satu wartawan atau istilahnya floating. Paginya liputan tentang paparan kinerja kuartal I bank swasta, sorenya harus menyimak paparan tentang investasi hulu migas Kira-kira begitu. 

Meski sangat melelahkan setiap kali liputan di sektor energi, nyaris membuat kedua alis saya bertemu dan jidat berkerut saking bingungnya dengan pembahasan di sektor energi, nyatanya saya senang-senang saja setiap kali disuruh meliput ke sana. Kalau ditanya kenapa kok mau ditempatkan ke sana, saya juga bingung jawabnya. 

Paling satu-satunya jawaban adalah karena dulu saya sempat liputan pelantikan Rudi Rubiandini sebagai Kepala SKK Migas, lalu enggak lama setelah itu, dia tertangkap kasus korupsi. Saya dan rekan wartawan saat itu, yang juga teman kuliah, sempat gemes sama sosok Rudi ketika bicara. 

Selain insiden itu, kekaguman saya terhadap pegawai Pertamina yang memakai seragam saat eksplorasi minyak juga masih lekat. Ini berawal ketika ayahnya teman SMA saya berprofesi sebagai pekerja Pertamina. Saya yang kerap menginap di rumahnya untuk belajar bareng jadi membayangkan kerennya ya orang pertamina ini kalau pakai seragam lapangan mereka, persis seperti Wamen ESDM, Arcandra Tahar yang bilang kalau yang bikin dia jatuh cinta sama dunia perminyakan karena seragam yang dipakai itu keren. Belum lagi, hidup pun sepertinya terjamin kalau bekerja di BUMN perminyakan ini.
Mantan Dirut Pertamina, Elia Massa Manik. Foto: Ema Fitriyani
Bisa dibilang, sebelum masuk kumparan dan meliput acara di sana, terakhir kali saya ke Pertamina sebagai wartawan adalah 5 tahun lalu atau pada 2012 silam saat mencicipi menjadi wartawan magang di majalah ekonomi. Selama itu pula, saya masih menganggap bahwa pekerja Pertamina, terutama insinyur-insinyur yang memproduksi migas itu keren! 

Berkaitan dengan kekaguman itu, saya juga pernah berharap bisa bertemu jodoh di antara banyaknya insinyur yang dimiliki Pertamina, hahaha! 

Terlepas dari alasan yang terdengar tidak dewasa itu, liputan saya juga diback-up oleh atasan yang emang paham banget sektor ini. Jadi, dari dia, saya banyak banget belajar mulai dari mengenal apa itu WK atau wilayah kerja seperti blok migas, apa itu cekungan (basin) di hulu minyak, kelistrikan, pertambangan, hingga mengapa Pertamina menjadi BUMN yang banyak diincar mafia-mafia di luar sana.

Juga tentang mengapa Pertamina selama ini malas bereksplorasi dan apa itu blok migas terminasi. Kami juga sering menduga-duga kenapa posisi Direktur Utama Pertamina di sana kerap diganti. Mengapa listrik dan BBM enggak naik hingga 2019, kenapa pemerintah membuat aturan harga khusus batu bara untuk PLN maksimal USD 70 per ton tapi tidak menetapkan batas bawahnya, dan lain-lain, dan lain-lain. 
Pas liputan ke pabrik pengolahan nikel jadi feronikel milik Antam di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Foto: Ema Fitriyani
Tentu saja, bagian pembahasan tentang Pertamina selalu membuat saya bersemangat. Banyak respon "oh... begitu, oh... baru tahu. Ya, tuhan kenapa rumit banget. Kok jahat ya" yang saya ungkapkan saat senior bercerita.

Perlahan, saya memahami, bahwa sektor energi ini amat penting karena menyangkut hidup banyak orang. Karena posisinya itulah, maka ketahanan energi terus dilakukan pemerintah di tengah mafia yang menggerogoti sektor ini. 

Jadi... setelah berjalan enam bulan di kumparan, khususnya di sektor energi dengan segala permasalahannya, buat saya sangat melelahkan tapi seru. Seru tapi melelahkan. Keseruan ini juga sebenarnya tidak ada apa-apanya dengan wartawan lain yang senior. Tapi sektor ini selalu bikin penasaran. 

Well, yang penting jangan keseringan telat makan dan terus belajar nulis yang baik biar enggak ngerepotin editor di kantor terus. Semangat, ems!

*Keterangan foto yang jadi header:
Pengeboran di sumur JAS -D milik Pertamina (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In

Bareng Dia, Olahraga Bukan Lagi Wacana di 2018

Allianz Sweat Challenge
Dalam hidup ini, ternyata ada banyak hal yang akhirnya jadi sekadar wacana. Mulai dari liburan bareng, nonton bioskop, reunian teman sekolah atau kampus, menghabiskan minimal satu buku satu bulan, rajin unggah tulisan di blog, sampai nurunin berat badan yang akhirnya cuma angin lalu.

Dari beberapa hal yang saya sebutin itu, di tahun 2017 lalu Cuma satu aja yang cukup rajin dilakuin: nulis di blog! Ini karena memang pas tahun lalu ketemu banyak kenalan blogger plus karena masih sempat nulis curhatan XD. Ada sih satu lagi yang cukup sempat dilakuin, yaitu melahap satu buku selama satu bulan. Sayangnya, hanya bertahan beberapa bulan saja.


Ini zumba minggu lalu. Dok: Allianz Sweat Challenge

 Ibarat anggaran yang sudah diproyeksikan pemerintah di APBN, dari target yang sudah tertulis rapih eh ternyata realisasinya jauh dari harapan. Dan yang paling susah dilakuin adalah olahraga!

Karena tahun ini enggak mau kayak gitu lagi, pas malam tahun baru, pas pulang kerja (tahun baru kerja? Iya!), saya bikin beberapa daftar resolusi yang harus dicapai. Rajin olahraga demi tubuh yang sehat menempati urutan pertama.

Bukan apa-apa, berat badan saya pas Oktober-November tahun lalu itu sekitar 57 kg. Karena di pekerjaan saya yang baru ini mobilitasnya tinggi, jadi ribet juga kalau berat badan enggak kekontrol. Alhamdulillah, pas ke puskemas 2 minggu lalu, timbangannya jadi 53 kg.

Pas tau berat badan turun kaget juga sih. Karena dalam dua bulan bisa turun 4 kg kan wow aja. Cuma enggak terlalu senang karena bisa jadi itu akibat stress di kerjaan baru di mana setiap harinya dihabiskan di lapangan. Karena enggak mau nantinya bakal down di lapangan, saya mutusin buat rajin olahraga. Karena dengan tinggi badan yang mini ini, harusnya sih berat badan saya 45 kg. 
Ini zumba minggu lalu. Dok: Allianz Sweat Challenge
Cari-cari info olahraga yang menyenangkan, ketemulah sama Allianz Sweat Challenge di media sosial. Pas buka link-nya, ternyata ini acara olahraga dua mingguan di Ancol Ecopark, Jakarta. Kegiatanya udah berlangsung dari November tahun lalu sih. Cuma bakal berlangsung sampai akhir 2018!

Di Januari ini, yang pertama udah berlangsung 13 Januari kemarin. Acaranya zumba yang dipandu mantan artis yang juga anak artis, Cantika Felder. Ada yang kenal emaknya siapa? Itu lho, ibunya juga enggak kalah cantik, artis senior Minati Atmanegara. 

Ini zumba minggu lalu. Dok: Allianz Sweat Challenge
 Karena ini acara dua mingguan, kegiatan selanjutnya itu minggu depan. Catat tanggalnya ya: 27 Januari 2017 dengan agendanya Cardio Dance with Step Dance Academy! Menarik ya? Kamu mau ikutan? Kuy buka di sini informasinya! Jumlah pesertanya 200 orang saja, jadi buruan daftar sebelum kehabisan #allianzsweatchallenge. Oh iya, ini acaranya GRATIS ya! Tinggal bawa badan yang fit saja, bawa pacar juga boleh.

Oh ya, buat yang tinggalnya di Bogor kayak saya hmm.. kayaknya kamu mesti nginep di kosan teman di Jakarta kalau enggak mau ketinggalan acaranya. Soalnya mulai pukul 06:00 WIB pagi.

Yha masa mau olahraga dance siang, entar kepanasan :’) 

Dok: Allianz Sweat Challenge
 Habis Dance, Mampir ke Allianz Ecopark
Kebayang enggak pas nanti ikut cardio dance minggu depan bareng #allianzsweatchallenge, pulangnya kamu bisa menikmati alam yang segar dengan pemandangan yang juga bikin mata adem. Musabanya, Allianz Ecopark ini kit bisa cocok  tanam, lihat minizoo, hingga outbond. Kamu juga bisa duduk-duduk manis menghadap danau yang ada di dalamnya. 

Menariknya, sama kayak acara Allianz Sweat Challenge, masuk ke Allianz Ecopark juga gratis! Tapi kalau mau sewa aneka permainan yang ada di dalamnya bayar ya, hehe. Cocok buat yang berkeluarga deh sambil bawa anaknya. Buat yang belum bekeluarga juga cocok, sambil jalan-jalan bareng pacar sambil lihat-lihat pasangan muda bahagia kan. Yha siapa tahu pulang dari sana dilamar yakan karena terstimulus keluarga bahagia di pinggir danau Allianz Ecopark.

Jadi, intinya bareng dia, bukan cuma olahrga aja nih yang enggak cuma sekadar wacana, obrolan mau nikah juga bisa jadi isu yang hangat lagi ya kan. Pokoknya datang aja dulu 27 Januari 2018 gaes!

Info lengkap bisa cek:
Instagram @allianzindonesia 
atau cari tagar #allianzsweatchallenge di Twitter

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments