In kumparan migas

Serunya Jadi Wartawan Sektor Energi


Halo, semua!


Setelah lama enggak nulis di blog karena kesibukan di tempat kerja yang baru, akhirya saya nyempatin juga buat nulis sore hari ini. Mumpung lagi ngetik berita di kantor dengan pemandangan kolam renang dan taman yang nyaman, saya mau mau nulis tentang pengalaman menjadi wartawan baru di sektor energi seperti minyak, gas, dan listrik. 

Ya, tepat bulan ini saya sudah enam bulan menjadi wartawan di kumparan, media online yang baru setahun berdiri tapi sudah banyak dibicarakan orang. Di sini, saya mendapatkan posisi sebagai wartawan ekonomi. Sementara fokus isu yang diliput adalah sektor energi. 

Hmm... sebenarnya di media online dengan hanya 7 awak di desk ekonomi, tidak ada penempatan sektor mana yang secara khusus harus digeluti. Entah kenapa, saya yang baru jadi wartawan kemarin sore malah ditempatkan di sektor yang bikin kepala berasap selagi liputan, begitupun saat menggarap berita. Alasannya, karena sektor energi sangat rumit dan begitu teknis. 

Gedung Kementerian ESDM di malam hari, saat semua wartawan udah pulang dan saya masih nulis. Press room-nya ada di gedung sebelah pojok kiri :)
Mungkin karena saat interview dengan users di kumparan, salah satu dari mereka menanyakan apa berita yang saya ikuti selama ini. Lalu saya menjawab proses divestasi saham Freeport ke Indonesia dan kisruh antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu, yang membuat kantor akhirnya memilih saya untuk banyak meliput di sektor energi dan BUMN. Ya... meskipun, seperti yang saya bilang tadi, di sini tidak ada sektor yang dikhususkan bagi satu wartawan. Semua isu lintas sektor sangat mungkin digarap satu wartawan atau istilahnya floating. Paginya liputan tentang paparan kinerja kuartal I bank swasta, sorenya harus menyimak paparan tentang investasi hulu migas Kira-kira begitu. 

Meski sangat melelahkan setiap kali liputan di sektor energi, nyaris membuat kedua alis saya bertemu dan jidat berkerut saking bingungnya dengan pembahasan di sektor energi, nyatanya saya senang-senang saja setiap kali disuruh meliput ke sana. Kalau ditanya kenapa kok mau ditempatkan ke sana, saya juga bingung jawabnya. 

Paling satu-satunya jawaban adalah karena dulu saya sempat liputan pelantikan Rudi Rubiandini sebagai Kepala SKK Migas, lalu enggak lama setelah itu, dia tertangkap kasus korupsi. Saya dan rekan wartawan saat itu, yang juga teman kuliah, sempat gemes sama sosok Rudi ketika bicara. 

Selain insiden itu, kekaguman saya terhadap pegawai Pertamina yang memakai seragam saat eksplorasi minyak juga masih lekat. Ini berawal ketika ayahnya teman SMA saya berprofesi sebagai pekerja Pertamina. Saya yang kerap menginap di rumahnya untuk belajar bareng jadi membayangkan kerennya ya orang pertamina ini kalau pakai seragam lapangan mereka, persis seperti Wamen ESDM, Arcandra Tahar yang bilang kalau yang bikin dia jatuh cinta sama dunia perminyakan karena seragam yang dipakai itu keren. Belum lagi, hidup pun sepertinya terjamin kalau bekerja di BUMN perminyakan ini.
Mantan Dirut Pertamina, Elia Massa Manik. Foto: Ema Fitriyani
Bisa dibilang, sebelum masuk kumparan dan meliput acara di sana, terakhir kali saya ke Pertamina sebagai wartawan adalah 5 tahun lalu atau pada 2012 silam saat mencicipi menjadi wartawan magang di majalah ekonomi. Selama itu pula, saya masih menganggap bahwa pekerja Pertamina, terutama insinyur-insinyur yang memproduksi migas itu keren! 

Berkaitan dengan kekaguman itu, saya juga pernah berharap bisa bertemu jodoh di antara banyaknya insinyur yang dimiliki Pertamina, hahaha! 

Terlepas dari alasan yang terdengar tidak dewasa itu, liputan saya juga diback-up oleh atasan yang emang paham banget sektor ini. Jadi, dari dia, saya banyak banget belajar mulai dari mengenal apa itu WK atau wilayah kerja seperti blok migas, apa itu cekungan (basin) di hulu minyak, kelistrikan, pertambangan, hingga mengapa Pertamina menjadi BUMN yang banyak diincar mafia-mafia di luar sana.

Juga tentang mengapa Pertamina selama ini malas bereksplorasi dan apa itu blok migas terminasi. Kami juga sering menduga-duga kenapa posisi Direktur Utama Pertamina di sana kerap diganti. Mengapa listrik dan BBM enggak naik hingga 2019, kenapa pemerintah membuat aturan harga khusus batu bara untuk PLN maksimal USD 70 per ton tapi tidak menetapkan batas bawahnya, dan lain-lain, dan lain-lain. 
Pas liputan ke pabrik pengolahan nikel jadi feronikel milik Antam di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Foto: Ema Fitriyani
Tentu saja, bagian pembahasan tentang Pertamina selalu membuat saya bersemangat. Banyak respon "oh... begitu, oh... baru tahu. Ya, tuhan kenapa rumit banget. Kok jahat ya" yang saya ungkapkan saat senior bercerita.

Perlahan, saya memahami, bahwa sektor energi ini amat penting karena menyangkut hidup banyak orang. Karena posisinya itulah, maka ketahanan energi terus dilakukan pemerintah di tengah mafia yang menggerogoti sektor ini. 

Jadi... setelah berjalan enam bulan di kumparan, khususnya di sektor energi dengan segala permasalahannya, buat saya sangat melelahkan tapi seru. Seru tapi melelahkan. Keseruan ini juga sebenarnya tidak ada apa-apanya dengan wartawan lain yang senior. Tapi sektor ini selalu bikin penasaran. 

Well, yang penting jangan keseringan telat makan dan terus belajar nulis yang baik biar enggak ngerepotin editor di kantor terus. Semangat, ems!

*Keterangan foto yang jadi header:
Pengeboran di sumur JAS -D milik Pertamina (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Related Articles

2 komentar:

  1. Aku gak kuat bacanya... Terharuuuu. .

    ReplyDelete
  2. Seru ya ceritanya jadi wartawan energi. Jadi ingin berkecimpung dan menjadi wartawan. :V Semangat Mba Ems..

    ReplyDelete