In Hai Ems! ibu teman

Teman

Sejak SMA, saat tahap kehidupan rasanya lebih berat ketimbang jadi remaja SMP, aku mulai kesulitan mendefinisikan arti kata "teman". Teman itu seperti apa? Teman yang bagaimana yang kamu anggap teman?

Ini bukan karena aku tidak memiliki teman satu pun dan hanya diam di pojokan kelas. Masa sekolahku di kelilingi banyak teman meski mereka datang silih berganti. Hanya saja, kebingungan tentang definisi teman dan pertemanan mulai terjadi saat SMA.

Waktu itu aku sangat cemburu pada teman perempuanku. Dia teman pertama di SMA. Kami kenalan karena satu kelompok sebelum mendapatkan kelas. Tapi setelah pembagian kelas, kami tidak pernah satu ruangan. Selama tiga tahun berturut-turut dia selalu berada di kelas unggulan, sementara aku berada di kelas setelahnya.

Kami sangat dekat. Rumahnya yang masih satu komplek dengan lokasi sekolah kami membuat aku kerap mampir untuk belajar atau sekadar main, menunggu waktu hingga dia masuk les sore hari.

Puncak dari kecemburuan terhadap temanku saat itu terjadi saat kami kelas tiga. Waktu itu, aku marah besar padanya karena ditinggal istirahat duluan. Dia memilih pergi keluar bersama teman-teman sekelasnya. Dari lantai 3, aku melihat dia keluar dari musola. Ternyata dia keluar duluan untuk solat Dhuha bersama teman-teman sekelasnya.

Kala itu aku termenung, tapi rasa  cemburu sudah lebih dulu menguasai perasaanku. Rasa kecewa itu aku pendam sendiri.

Pertemanan kami saat SMA memang sangat emosional. Aku amat menyukai orang yang ternyata sudah lebih dulu nembak dia dan mereka jadian. Aku terlibat di antara hubungan mereka, saat mereka senang juga saat ribut. Aku banyak berikan masukan saat hubungan mereka renggang. Aku senang kalau melihat mereka kembali rukun, tapi juga tersiksa.

Kalau ingat kejadian itu sekarang konyol banget dan kami pernah mengenangnya saat ini dengan tawa yang tak sebentar. Tapi begitulah masa-masa SMA, masa yang kata banyak orang adalah era paling menyenangkan dan tak terlupakan.

Karena pertemananku di SMA sangat menguras tenaga meski hanya pada satu orang, memasuki kuliah aku tak ingin terlibat pada pertemanan yang begitu lengket, apalagi sampai menyebutnya best friend forever. Berteman ya biasa saja. Ada teman yang cocok untuk bercerita sekadarnya soal pelajaran, ada teman yang asik diajak bekerja sama, ada teman yang memang cocoknya untuk ketawa-ketiwi, dan ada juga teman tempat meluapkan keluh kesah uang bulan sudah habis. Kala itu aku anggap teman adalah teman dengan peran masing-masing.

Terdengar egois ya? Apa aku teman yang egois? Aku berharap ada yang mengkoreksiku.

Dalam hati, aku meyakinkan diri sendiri bahwa pemahaman seperti itu bukan oportunis, tapi sikap untuk menjaga batasan agar aku tidak terlalu berharap pada orang lain sekecil apapun seperti ingin bercerita tentang beratnya hari-hari yang kujalani.

Tapi, seperti jadwal olahraga yang sering aku langgar, sikap "tidak berharap pada orang lain" ini kadang kuterabas juga.

Aku ingin bercerita pada sesama manusia, pada teman. Biar tak melulu bicara satu arah pada blog ini.

Keinginan ini muncul setelah lagi aku pikir telah menemukan orang yang pas. Keinginan itu muncul setelah aku merasa hidup kami sama-sama tak mudah dijalani meski kasusnya berbeda. Jadi, aku merasa akan cocok berbagi pengalaman hidup, meski tak selalu harus menemukan solusi. Hanya cukup saling mendengar dan meresapi bahwa hidup ini tak mudah dan semangat yang tak boleh lenyap.

Artikel-artikelnya tentang hidup dia membuatku respek dan ingin mendengarnya lebih banyak, juga kalau-kalau komentarku bisa membantunya, itupun kalau dibutuhkan.

Keinginan itu muncul juga karena diperkuat oleh cerita tentang sosok ibunya. Entah kenapa, aku mudah masuk ke dalam cerita seseorang jika itu menyangkut sosok ibu. Di masa lalu, aku pernah begitu sangat khawatir  pada ibu seseorang. Ibu yang bahkan belum pernah kutemui tapi ceritanya tentang ketegaran, kasih sayang, dan sikap kerelaan hatinya kerap kudengar.

Di masa lalu, aku bisa menunjukkan kepada orang itu kalau aku ingin tahu kabar ibunya, meski hubungan kami sudah tidak baik-baik. Ya, dia mantan pacar 3-4 tahun lalu tapi kisah ibunya melekat hingga beberapa tahun lamanya.

Dan kini, tentang ibu yang hendak dioperasi bulan ini membuatku ingin selalu tahu kabarnya.

Tapi...

"Aku enggak cerdas mengembangkan obrolan. Lebih baik mengembangkan isu berita," yang dia ucapkan beberapa waktu lalu membuatku kaget.

Aku tidak ingin perasaan seperti kecewa memenuhi pikiranku seperti SMA dulu ketika mendapati pesan itu dalam sebuah chat. Tapi ternyata tarikan nafasku terasa berat.

"Intinya kamu baik, Ma" dan "Teman laki-lakimu banyak yang menyenangkan kan?" lanjutnya yang membuatku tidak mengerti.

Aku butuh jeda untuk menyerap maksudnya yang ternyata bukan sejam atau dua jam. Hingga besoknya, kalimat itu masih berputar-putar di otakku.

Apakah aku sedang ditolak? Penolakan sebagai teman? Apa aku pernah berucap salah? Ada banyak pertanyaan. Tapi seperti tanda titik yang selalu dibubuhinya di setiap akhir chat, aku kesulitan untuk bertanya lagi. Pernyataannya seolah memberikan sinyal jangan hubungi aku lagi, begitukah? Aku tidak tahu tapi aku merasa mataku panas.

Mungkin, seharusnya aku memang tidak menerabas apa yang sudah jadi keyakinan tentang definisi teman selama ini. Dan memang seharusnya teman bercerita terbaik adalah Tuhanmu sendiri, bukan orang lain. Meski dalam percakapan singkat ini, aku tak pernah berpikir tujuan awalnya agar aku bisa berbagi cerita tapi ingin mendengar cerita hidupmu lebih banyak.

Semoga operasi ibunya lancar, Mas.

Related Articles

1 komentar:

  1. Entah itu ibunya siapa, semoga operasinya diberi kelancaran oleh alloh.

    Dan semoga hatinya cepet pulih, mba em.

    ReplyDelete