In

Kedua Kali

Tidak terpikirkan olehku akan kembali mengulangi hal yang sama: mengungkapkan rasa suka kepada seseorang. Kupikir cukup saat SMA saja, jadi yang pertama, dan tak pernah terbayang akan begitu sebelas tahun kemudian kepada orang yang berbeda.

Tapi aku senang bisa mengungkapkannya, meski hasilnya memang tak pernah seperti peribahasa lawas: bak gayung bersambut, justru berakhir dengan “jauh panggang daripada api” alias tak berbalas.

Kalau mau ditarik ke belakang, bukan sekadar kenyataan bahwa aku ditolak dua kali dengan dua orang berbeda. Tapi ternyata, begitu caraku merespons perasaan suka terhadap seseorang: dengan mengakuinya sendiri, meski dua-duanya kulakukan melalui telepon genggam.

Ya, terdengar nekat.

Seorang teman laki-laki yang kuceritai kejadian ini pun menganggap gila, yang diapun belum tentu berani.

Tapi begitulah aku menyelesaikannya. Memilih mendatangani rumah yang kulirik dan mengetuk sendiri pintunya. Mengucap salam, menyampaikan maksud tujuan datang ke sana. Menyerahkan yang kubawa: segenap kue berbentuk perasaan suka dengan berbagai topping di atasnya, mulai dari dia yang begini dan begitu.

Tak pernah sedikitpun menyesal, meski rasanya ingin memasukkan mukaku ke dalam kardus.

Sebelum benar-benar mengetuk pintu rumah itu, tentu aku sudah bolak-balik dibikin pusing apakah keputusanku tepat. Tapi, seperti mendaki gunung, harus kutuntaskan semuanya sampai ke puncak, biar tak ada yang tersisa sedikitpun. Kalau pun ada yang masih kusimpan, itu adalah kekagumanku padanya yang mungkin tak luntur sebagaimana aku takjub melihat pemandangan luar biasa setelah sampai di puncak gunung.

Bedanya kejadian saat SMA dan belum lama ini adalah jawaban mereka dan bagaimana aku meresponsnya. Kali ini aku lebih cepat menerima kekalahanku. Tapi aku merasa menang, menang atas kegelisahanku sendiri. Menang atas rasa suka yang kupendam dan mengakuinya. Membayangkannya seperti melepas bra di malam hari sebelum tidur setelah seharian beraktivitas, ha-ha-ha. Lepas. Lega.

Barangkali karena jawaban dia yang jauh lebih dewasa ketimbang bocah SMA paling belagu yang pernah kutaksir dulu.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya
Karena profesi kami sama, aku masih bertemu dengannya, tentu tanpa disengaja, tanpa janjian. Bertemu begitu saja, yang kadang membuat jantungku berdegup. Seperti kubilang tadi, indahnya pemandangan di atas puncak gunung tak bisa begitu saja dihilangkan.

Ah, barangkali aku terlalu memuji dia. Tapi begitulah adanya.

Dari pertemuan-pertemuan tak sengaja pasca aku mengetuk pintunya, seperti ada kemajuan. Mulanya seperti ingin memasukkan muka ke kardus, lari saat tiba-tiba tak sengaja bertemu dan disapanya di dekat pintu toilet salah satu kementerian. Lalu di pertemuan lain rasanya seperti sedang membawa motor di jalan raya sambil kehujanan, hati rasanya kayak mata yang kena rintik hujan, sakit tertusuk-tusuk tapi senang karena merasa sejuk.

Dan pertemuan yang belum lama ini, rasanya seperti berhasil mengisi soal ujian, saling menjawab pertanyaan tentang mau mewawancarai siapa dalam suatu diskusi di salah satu kementerian.

Seperti yang pernah kusampaikan padanya pada awal April, biarlah rasa suka ini tumbuh mengikuti cahaya matahari yang menyinari bumi, meski angin yang datang tak selalu bisa diprediksi. Tapi, seperti dalam time lapse sebuah kamera, kita harus bergerak karena hidup bukan soal hati melulu. Hehe.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments